Jumat, 20 Maret 2020

Perihal Maaf dan Memaafkan

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.

Boleh bertanya?
Mengapa terlalu banyak pembeda.
Mengapa terlalu curang untuk diterima.
Mengapa terlalu sakit untuk ada.

Manusia datang dan pergi.
Membawa kisah dan kasihnya sendiri.
Membaca lan mengamati.
Membuang lan membenci.

Aku pun demikian.
Sama seperti kebanyakan.
Tanpa henti mengumpat sumpah serapah.
Tanpa henti meluap-luapkan amarah.

Barangkali dengan begitu, puas hati tanpa menyakiti.
Namun lupa jika kemudian, hati rusak karna dengki.
Tak henti berasumsi.
Tak henti berapi-api.

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Tak seimbang, jomplang.
Tak terpandang, sungsang.

Tapi,
Manusia bernyali tinggi pasti akan memaafkan.
Manusia bernyali tinggi pasti akan berdamai dengan keadaan.
Penuhi hati dengan afirmasi kebaikan.
Penuhi hati dengan bahagia tanpa butuh alasan.

Aku percaya.
Yang perih suatu saat pasti akan sembuh.
Yang letih suatu saat pasti akan tersentuh.
Yang tersisih suatu saat pasti akan utuh.
Yang terlatih suatu saat akan tumbuh.

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Semuanya sudah termaafkan.
Biarlah waktu yang membuang.
Hingga lambat laun hilang tanpa kenangan.

-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2020, 12.12, maaf, memaafkan, dan termaafkan.

Jumat, 13 Maret 2020

BUTUH RUANG

Seringkali kita terlalu sibuk untuk ada, hadir, dan turut serta.
Seringkali kita terbiasa untuk menipu diri sendiri agar terlihat baik-baik saja.
Seringkali kita lupa bahwa kita hidup bukan hanya untuk membahagiakan orang lain.
Seringkali kita malah acuh pada kepentingan kita sendiri.

Sampai kapan mau terus seperti ini?
Sampai kapan mau terus berada dalam palsu yang kau ciptakan sendiri?
Sampai kapan mau terus menangis dalam kesunyian?
Sampai kapan mau terus terjebak dalam aman yang membuat dirimu sendiri justru tidak nyaman?

Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut tidak didengar?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut salah paham?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut justru akan menimbulkan masalah?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut tengkar dan melekatkan trauma?

Aku butuh ruang.
Aku butuh ruang untuk menata apapun yang kuinginkan.
Aku butuh ruang untuk melakukan apapun yang kumau.
Aku butuh ruang untuk mengatur dan membesarkan anakku dengan caraku sendiri.
Aku butuh ruang untuk menjadi aku dengan semua kenyamananku.

Aku butuh ruang tanpa batasan.
Aku butuh ruang untuk menjadi diriku sendiri.

-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2020, 13.20, butuh ruang unttuk sendiri.

Senin, 05 November 2018

MATAHARI

Halo Matahari,
Bintang raksasa,
Bergaya grafitasi tinggi,
Si penguasa tata surya.

Matahari,
Bumi hangat hari ini,
Karenamu, si pemancar cahaya terbaik bumi ini.
Kusampaikan rinduku lewat celah-celah tirai jendela kamarku.
Kau menyapa lewat sinar yang kau pancarkan tepat mengenai wajahku.

Matahari,
Banyak yang mengeluhkan terikmu,
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah energi surya.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber penerangan terbesar di dunia.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber utama bagi kehidupan mahluk hidup.

Matahari,
Angin yang kau keluarkan dari atas atmosfermu bahkan bisa menjangkau keseluruhan tata surya.
Tanpamu kehidupan tidak akan berjalan baik.
Kau begitu kuat, begitu tangguh dengan dirimu sendiri.

Matahari,
Warnamu penyemangat.
Pemberi riang bagi hati yang tersayat.
Pemberi ruang bagi manusia yang terus bergerak.
Pencipta peluang bagi jiwa-jiwa pendobrak.
Pelukis senyum bagi raga yang terus bersorak.

-Istiqitsi
Bontang, 6 November 2018, 06.13, semangat pagi matahariku.

Minggu, 19 Maret 2017

HUJAN

Hujan jatuh tanpa cegah.
Basahi bumi meratapi.
Langit pucat tanpa ubah.
Rintik air buyarkan sepi.

Hujan jembatan.
Pengantar pesan dari langit kepada bumi.
Hujan keajaiban.
Uap air yang dikondensasikan menjadi butiran air
dari atmosfer ke daratan pertiwi.

Udara jenuh menjelang hujan.
Presipitasi jatuh dan menguap sebelum menyentuh daratan.
Wujud virga seperti yang biasa kita rasakan.
Kilat, petir datang pun bukan karna tanpa alasan.

Hujan simbol keberkahan.
Penolong, pemenuh kebutuhan.
Hujan penanda kejujuran.
Penyeimbang, pemusnah cerah dalam kegelapan.
Hujan adalah kedamaian.
Penguat, pemeluk jiwa dalam ketenangan.

Hujan, turunlah deras.
Bergejolaklah keras.
Hingga kau lelah dalam rintikanmu.
Hingga gerimis berangsur-angsur mengering.
Dan pelangi hadir mewarnai hari,
Dan pelangi hadir menghangatkan hati.

-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2017, 00.05, dalam hujan merengkuh mimpi.

Senin, 13 Maret 2017

LANGIT

Langit berbisik, ia ingin sekali menangis malam ini.
Mendung tak berujung, namun tak juga lekas kau tumpahkan ke tanah.
Tertahan.
Senja menghitam di penghujung petang.

Langit, kau luas.
Gas yang ada padamu tak terbatas.
Udara membiaskan cahaya biru lebih banyak dari matahari.
Warnamu mengagumkan.
Biru yang menyejukkan.
Jingga yang menenangkan.
Dan hitam yang melukiskan betapa manisnya bintang dan bulan yang saling menerangi.

Langit, kau adalah atap.
Pelindung dalam setiap harap.
Pemersatu doa dalam setiap ratap.

Langit, mengapa kau terus mendung?
Mengapa kau tak segera bersenandung?
Bernyanyilah dengan ribuan rintik hujan yang akan mengobati lukamu.
Menarilah dibawah nyanyian derasmu itu, usir sepi dalam sesakmu.
Biarlah sajak dalam bait ini memainkan sanjungannya untukmu.
Lekaslah tersenyum dan berbahagialah dengan cerahmu.
Karna kami sangat merindukanmu.

-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2017, 21.53, untukmu Langit.

Minggu, 19 Februari 2017

Denganmu

Aku ingin terbang.
Mengudara bebas.
Menjelajahi berbagai dimensi.
Melintasi samudra waktu.
Berkenala tanpa ganggu.

Aku ingin menyebrangi Venus.
Berselancar di piringan Saturnus.
Menemukanmu di Uranus.
dan berdansa denganmu di radar Neptunus.

Aku akan menyentuhmu di ujung mata.
Menggenggammu dengan cerita.
Memelukmu dengan nada.
Menciummu dengan tawa.

Galaksi ini kecil.
Cinta dengan makna dalam canggungnya.
Canggung yang dicapai dalam bahasanya.
Bahasa yang diterjemah oleh satelit pemancarnya.

Jagat raya ini menyeluruh.
Dunia kita utuh.
Kau dan aku.
Dua dan satu.

Denganmu,
Gundah membahagiakan.
Gerah menyejukkan.
Gelisah menenangkan.
Selamanya akan begitu bukan?

-Istiqitsi
Malang, 19 Februari 2017, 17.45, denganmu, bersamamu, melegakan.

Minggu, 29 Januari 2017

Sayang Rasa Lemon

Aristoteles mendefinisikan sahabat sejati adalah “satu jiwa di dalam dua jasad”. Seseorang juga pernah mengatakan bahwa “banyak sekali orang yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya sahabat sejatilah yang jejaknya tetap tertinggal di hatimu.” Dia tidak pernah pergi meskipun jarang komunikasi, dia tak akan pernah hilang meskipun terpisah oleh ribuan kilometer jarak yang terbentang.

Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang *ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu, menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.

Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh. Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.

Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata dibandingkan ungkapan.

Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka - bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak pernah meninggalkanmu seorang diri.

Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin (awet tanpa padam).
 
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih. Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.

Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤

-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44, sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.

Jumat, 13 Januari 2017

PENCAPAIAN

Apa yang orang dapatkan dari sebuah pencapaian?
Apakah rasa bangga?
Apakah rasa hormat?
Apakah rasa puas?
Apakah rasa menang?
Ataukah rasa syukur?

Banyak orang berlomba-lomba; bertarung; mempertaruhkan seluruh tenaga, waktu, pikiran; untuk apa? untuk harga diri -kebanyakan-.

Mengapa terkadang orang lebih ingin mencapai keberhasilan, kesuksesan? Apakah dari pencapaian itu ia akan bisa bahagia, lega?

Sampai pada titik teratas pun, manusia tidak akan pernah puas dan akan selalu berusaha untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan. Dapat membuktikan bahwa ia yang paling bersinar, bahwa ia yang paling terlihat. Bahwa menerima dan memahami akan menjadi nomor kesekian dari suatu pencapaian.

Itulah alasan kenapa aku sangat mengagumi bianglala, karena bianglala membuatku tidak akan lupa bahwa ketika kita diatas pun kita bisa dengan mudah untuk turun, kembali ke titik terbawah. Menolak lupa bahwa saat berada di titik teratas pun, ada orang lain yang sedang menunggu giliran untuk mulai naik keatas. Bergantian, silih berganti.

Seseorang datang dan pergi, membawa warna dan kelabunya sendiri. Saat dititik terbawah selalu ada sebuah keoptimisan bahwa ada kalanya kita akan naik keatas, bahwa ada orang-orang hebat yang akan membawamu turut serta, atau orang-orang baik yang akan membantumu untuk bangkit, ataupun dirimu sendiri yang dengan kokohnya pertahanan akan merangkak hingga berlari menuju titik pencapaianmu sendiri.

Bahwa definisi pencapaian setiap orangnya adalah berbeda. Begitupun juga dengan proses menujunya, berbeda, dan tidak akan pernah bisa sama.

Istiqitsi- Malang, 13 Januari 2016, 23.47, sebuah pencapaian~

Senin, 01 Agustus 2016

Bahagia dengan Membahagiakan



Saudaraku,
kebahagiaan kita terletak pada seberapa besar kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain (terlebih keluarga dan orang-orang disekitar), maka kita akan mendapatkan balasan kebahagiaan kita sendiri.

Oleh karenanya Saudaraku,
sebarkanlah aura positif, teruslah berbuat kebaikan, perbanyaklah bersyukur, buanglah sifat pamrih,
dan terakhir,
Jangan lupa bahagia!

Kamis, 28 Juli 2016

Berbagi Motivasi

Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun, yang berjudul "THE LAST LECTURE" (Pengajaran Terakhir). Dimana buku tersebut menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.

Buku The Last Lecture isinya membahas tentang, KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA MENJADI LEBIH BAIK, yaitu yang terdiri atas :
A. Personality
B. Community
C. Life

Berikut penjelasannya, check it out!

Pertama tentang kepribadian diri (PERSONALITY) :

1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.

4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.

5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk bergosip.

6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat Anda tertidur).

7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.

8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.

9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.

10. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak menganggu masa ini.

11. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

12. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

13. Tersenyumlah dan tertawalah.

14. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan, belajarlah untuk ikhlas.


Kedua membahas tentang bermasyarakat (COMMUNITY) :

15. Hubungi keluarga Anda sesering mungkin.

16. Setiap hari berikan sesuatu yang baik untuk orang lain.

17. Maafkan setiap orang untuk segala hal.

18. Cobalah untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.

19. Cobalah untuk membuat paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.

20. Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

21. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik.

Ketiga berbicara tentang kehidupan (LIFE) :

22. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.

23. Sadarilah bahwa Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.

24. Lakukan hal yang benar.

25. Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah jika Anda mau berusaha lebih keras.

26. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!

27. Yang terbaik mungkin belumlah tiba, tapi PASTI akan tiba pada waktunya.

28. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau menyedihkan.

29. Ketika Anda bangun di pagi hari, berterimakasihlah pada Tuhan untuk hidup yang telah Anda lewati. Berterimakasihlah lebih banyak, bersyukurlah dalam segala hal.

30. Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bahagia. So, always be happy fellas!


Pengetahuan ini tidak akan memperkaya kita dengan harta, namun pengetahuan ini akan memperkaya ilmu pengetahuan kita, dan semoga juga bisa bermanfaat untuk orang lain disekitar kita.

"Sebarkanlah kebaikan, maka kebaikan yang sama juga akan terus mengikutimu."

-istiqitsi

Selasa, 26 Juli 2016

Dibatas Pertemuan

Ada rindu yang datang diam-diam, lalu menghilang.
Menyeruak ke sela-sela nadi, lalu pergi.
Menembus sistem saraf pusat, namun ditolak mentah oleh sistem saraf perifer.
Mengakui 5 persen kesadaran, sementara lebihnya hanya acuh tak tersentuh.

Raga pergi.
Jiwa sepi sendiri.
Hati mati terhenti.
Mengingat yang pergi tanpa kembali.

Waktu berbatas.
Membawamu mengudara bebas.
Berbaur lepas.
Melintasi jutaan atlas.

Dermaga tanpa rona.
Gelap gulita seusai senja.
Kapal bersandar ditepian.
Awan mendung tanpa hujan.

Rindu serangkaian.
Dikebumikan kemudian.
Habis terkuras.
Lekas berbekas.

Sudah setengah abad usiamu -seharusnya-.
Ini tahun ke-enam setelah kepergianmu -selamanya-.

Dibatas pertemuan,
Rinduku dalam kerelaan.
Dibatas pertemuan,
Senyumku dalam kelegaan.
Dibatas pertemuan,
Bahagiaku dalam keikhlasan.

Hujan disini.
Dalam rinainya aku hanya menikmati.
Bintang akan tetap menjadi bintang tanpa perlu dimaknai.

Terimakasih.
Kau (sempat) hadir mewarnai duniaku.
Pengeluh sepertiku slalu terinspirasi karenamu.

Dibatas pertemuan,
Selamat ulang tahun, Raf.
Dalam dimensi yang berbeda.
Semoga kamu selalu bahagia disana.


26 Juli 2016,
kerinduan dibatas pertemuan.

Senin, 25 Juli 2016

Cinta yang Sempurna

"Mencintai manusia seperlunya, mencintai Allah sepenuhnya."

Banyak orang yang salah kaprah dengan makna "cinta" yang sedang mereka jalani, seakan-akan selalu "mendewakan" cinta tanpa memahami maksudnya. Menyerahkan keseluruhan rasa tanpa mendalami tujuannya. Mempertaruhkan separuh (seluruh) waktu hidupnya hanya dengan harapan akan mendapatkan cinta yang sempurna. Tidak banyak orang yang mengerti tentang makna cinta yang hakiki, mungkin termasuk juga denganku. Aku pun juga sama, merasa bahwa cinta adalah segalanya. Hingga tanpa sadar dalam setiap waktu kehidupanku hanya diperdaya oleh cinta.

Sering terbersit dalam pemikiran tentang konsep "cinta yang sempurna", namun dalam kenyataannya justru malah "cinta yang salah" yang kudapatkan. Terjebak dalam rasa yang selalu dipenuhi dengan gundah, gelisah. Cinta yang hanya membahagiakan sesaat, selebihnya hanya menibulkan kekecewaan yang berakhir dengan luka dalam jangka waktu yang bisa terbilang lama masa pemulihnya. Karena cinta, kita sering merasa dijadikan sebagai "korban". Korban perasaan yang nantinya membuat kita jadi baper (bawa perasaan), mengaitkan kesemuanya menjadi "atas nama cinta". Menangis karna cinta, tertawa karna cinta, terluka karna cinta, bahagia pun (seakan-akan) karna cinta.

Kita banyak mengingat hal-hal penting tentang cinta, namun sebaliknya kita sering lupa atau sengaja melupakan Sang Maha Pemberi Cinta itu sendiri. Sadar tidak? Kita hanya akan mengingat Allah ketika sedang dilanda masalah, selebihnya, rasa syukur hilang entah kemana ketika kita sedang bahagia. Bukan hanya itu, terkadang ketika sedang dalam masalah pun, kita justru su'udzon kepada Allah dan menyalahkan orang lain. Dengan pintarnya kita selalu mengoreksi orang lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri. Mengeluh tiada henti tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah dari diri kita sendiri. Kita mempercayai seseorang, mempertaruhkan seluruh rasa percaya itu kepada orang yang bahkan belum tentu bisa dipercaya. Kita mengagungkan seseorang yang kita anggap bisa menolong kita dalam setiap situasi kehidupan. Kita lupa bahwa mereka pun juga sama seperti kita, sama-sama mahluk yang berasal dari tanah, dan nantinya juga akan kembali ke tanah. 

Salah seorang Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, mengatakan, "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia". Lalu untuk apa kita masih berharap lebih kepada manusia yang notabenenya juga sama seperti kita? Oleh karenanya ingatlah, bahwa hanya Allah Sang Maha Penolong, hanya Allah Sang Maha Pelindung, hanya Allah Sang Maha dari segala Maha di Bumi dan seluruh jagad raya ini. Kitapun juga milik Allah, yang (sedang) dipinjami raga untuk hidup, yang diberikan keleluasaan untuk memilih kearah mana kita akan menuju nantinya.

Saudaraku, bangkit dan berjuanglah dengan cara kita masing-masing tanpa harus menyingkirkan orang lain, majulah tanpa harus mematahkan semangat yang lainnya. Jika kita merasa dijatuhkan, maka berdirilah. Jika kita merasa dibenci, maka bersyukurlah. Ingatlah, pohon mangga yang dilempari tahi sapi akan tumbuh jauh lebih subur, kenapa? Karena kita dapat menjadikan tahi sapi tersebut sebagai pupuk untuk membuat "pohon" kita berbuah lebih banyak. Bahkan akan lebih baik lagi jika kita bisa membagi "buah" tersebut dengan cara yang manis kepadanya yang melemparkan tahi sapi itu ke kita, ungkapkanlah rasa terimakasih, karenanya kita bisa tumbuh subur menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Saudaraku, kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam berpijak di dunia ini. Silahkan berlomba sekuat kemampuan yang kita miliki, namun berkompetisi dalam hal kebaikan adalah yang terbaik. Jangan menyerah! Selamat berjuang! Karena pada akhirnya nanti, hanya Allah-lah yang berhak mengadili. Percayakan kepada Allah seluruh rasa cinta dan kepercayaan kita, karena Allah akan memberikan kita yang terbaik, dan tidak akan pernah mengecewakan. Maka percayalah.

Senin, 01 Februari 2016

Tolong Berhenti

Apa yang membuatmu susah tidur hampir di setiap malam?
Apakah ketakutan?
Kesepian?
Kegelisahan?
Pikiran?
atau bayangan -masa lalumu-?

Apakah sakit tak membuatmu jera?
Mengingatnya sebagai luka.
Namun tetap kau lakukan hampir di setiap harinya.

Apakah tak bisa kau beralih?
Berpindah tanpa pedih.
Berjalan tanpa perih.
Bergerak tanpa sedih.

Apakah tak bisa kau sadari?
Masa lalumu hanyalah sebuah memori.
Kenangan hanya bisa kau resapi.
Bukan untuk kau sesali.
dan sebesar apapun keinginanmu takkan bisa membuatmu tuk kembali.

Untukmu wahai hati.
Usaikanlah disini.
Cobalah mengerti.
dan jangan diulangi.

-Istiqitsi
Malang, 1 Februari 2016, 22:45, tolonglah berhenti.

Minggu, 17 Januari 2016

KUNAMAI DIA, BINTANG

Hai senja, apa kabar dengan masa lalu?
Apakah baik-baik saja disana?

Hai senja, kemarin aku melihat langit mendung sebelum menyambutmu.
Apakah sama dengan perasaanmu?

Hai senja, aku masih baik-baik saja disini.
Dan pelangiku masih tetap sama.

Senja, kali ini aku ingin menyapamu dengan senyum.
Keajaiban warnamu mungkin dicintai oleh kebanyakan orang, namun bagiku tetaplah pelangi yang selalu kurindukan.

Senja, aku masih ingat ketika kau menyapaku dengan spontan.
Aku masih ingat ketika kau melarutkanku dalam jalan hidup yang pernah tak ingin kubagi dengan yang lainnya.
Aku masih ingat ketika kau memudarkan titik fokusku kepadanya dan mengalihkannya untuk berfokus ke kamu.
Aku masih ingat ketika kau..... seperti tak ada habisnya ketika mengingatmu.

Senja, terkadang senyumanmu tak pernah bisa menjauh dari benakku.
Senja, terkadang tatapan haruku tak pernah bisa meninggalkanmu.
Senja, jika memang kini aku sedang merindukanmu.
Aku harap kau tetap terjaga disana.
Walaupun waktumu sangatlah singkat, tetapi kamu mampu menghipnotis banyak orang dalam hal perubahan yang baik.

Senja, mungkin kau hanya sebatas serpihan masa lalu yang tak dapat kuperpanjang masa berlakunya.
Begitupun juga denganku yang tak dapat kau gapai.
Dunia kita berbeda.

Kini sudah bukan waktunya lagi kita bertanya dalam syahdunya doa kepada Tuhan.
Kini hanya satu bintang yang dapat mengenang tentang kita.
Mungkin kamu merindukanku, dan mungkin juga aku yang merasakan hal yang sama.
Saat ini, apakah kau baik-baik saja disana?

Waktumu telah habis, dengan meninggalkan sejuta kenangan yang tak pernah habis untuk diceritakan.
Aku telah menguburmu dalam angan.
Namun terkadang aku menggalimu lagi dalam setiap pikiranku.
Aku terjebak dalam masa laluku, tetapi takkan pernah kudalami.
Kisah kita bukan seperti bintang yang tidak pernah meninggalkan bulan.
Kisah kita bukan seperti romeo dan julliet yang selalu berbekaskan keromantisan.
Kisah kita mungkin seperti malam dan siang yang hanya berbataskan senja.
Dan aku menikmati detik-detik pertemuan kita.
Sekejap, tapi menancap.

Sekarang, akan kugantikan namamu menjadi satu bintang yang terang.
Teruslah bersinar tanpa pernah padam.
Sementara aku, akan kulanjutkan hidupku.
Akan kuwujudkan semua impianku yang pernah kubagi denganmu.
Jangan khawatir, pelangi sudah berada tepat disisiku.
Dan dia pasti akan menjagaku selayaknya kamu dulu.

Bintang.. akan kutemani kau dalam setiap rentetan doaku pada Tuhan.
Akan ku-ukirkan setiap aku dan kamu menjadi suatu wadah di dalam kenangan.
Terimakasih untuk setiap kamu yang sempat menjadi sempurnaku di masa lalu.
Terimakasih untuk semua kita yang tak akan pernah bisa kita ulangi, meskipun hanya sekali.
Kini tidurlah dengan nyenyak dalam pelukan Tuhan.
Semoga bahagia di surga.


untukmu,
MRHL
Malang, 17 Januari 2016.

Rabu, 13 Mei 2015

Labirin

Siapa yang dapat menerka apa yang akan terjadi dalam hidup yang belum pernah kita tempuh? Apakah kita dapat menentukan arahnya? Ataukah kita bisa menjamin bahwa hidup ini akan selalu baik-baik saja?

Mungkin.. kita hanya dapat memprediksi rute yang akan kita lewati, tanpa bisa memastikan rute itu tepat atau tidak. Sebab hidup ini bak labirin yang sangat besar dan rumit. mungkin kita melangkah dengan benar namun ada kalanya kita salah dan harus berputar balik mencari jalan keluar.

Saat ini yang kuketahui aku sedang berada di dalam sebuah labirin. Berjalan dengan lunglai tapi tetap ingin terus berjalan. Aku ingin rute ini segera berakhir. Seringnya kuterseok, terbelenggu, dan patah asa dalam langkahku sendiri. Labirin ini luas dan tanpa cahaya. Bahkan ketika otak dan hati seakan sedang berdebat hebat pun, seperti masih ada seorang malaikat yang berbisik lirih dan terus mengajakku berjalan perlahan.

Bak labirin, aku tau aku tidak sendiri disana, banyak yang mendahuluiku dengan cepat, tapi nampaknya aku mulai menikmati perjalananku ini. Ya, aku mulai menikmati teka-teki labirin ini. Aku pelajari setiap sudutnya, aku mulai mengatur ulang rute dan garis finishnya, dan aku yakin AKU PASTI BISA! Iya, aku bisa menempuhnya walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama.

Labarin ini membuatku lebih berani melakukan banyak hal yang menurutku ajaib. Labirin ini membuatku mencintai kekuranganku, mengangkatnya tinggi, dan menjadikannya sebuah kekuatan. Labirin ini membuatku hidup tangguh dengan semangat baru. Dan labirin ini yang membuatku bahagia, mempertemukanku dengan mereka orang-orang hebat tak bertopeng yang menggandengku erat dan mengajakku bersama-sama menuju puncak.

Jika memang belum sekarang, aku tidak akan menyesalinya. Karena sungguh, kebahagiaan itu adil, dan keadilan itu kita sendiri yang bisa menciptakannya. Jadi, aku akan memilih untuk terus bahagia😉

Minggu, 15 Maret 2015

MOTIVASI DIRI

...Bismillahirrahmanirrahim...


Wahai Kawanku,
Hari mari kita panjatkan syukur yang besar kepada Sang Pencipta.
Karena atas keberkahan yang ia berikan, yang luar biasa banyaknya.
Ia berikan kita hidup yang layak.
Ia berikan kita kesehatan dan kerangka tubuh yang lengkap.
Ia berikan kita keluarga yang baik.
Ia berikan kita sahabat dan lingkungan hidup yang positif.
Dan ia berikan semua apa yang kita butuhkan.

Lalu apa yang membuat kita masih banyak mengeluh hingga saat ini?
Kegagalan kah?
Ketidak-beruntungan kah?
atau hidup yang tak sebaik dengan apa yang kita harapkan?

Iya memang. Hidup memang tak semudah seperti kita membolak-balikkan telapak tangan ataupun membuat garis lurus.
Ada kalanya berbelok dan berliku.
Tapi sadarkah kita bahwa proses itulah yang akan membuat hidup kita jauh lebih menarik jika kita menikmatinya.
Sulit?
Rumit?
Iya memang. Tapi ketika kita mampu untuk melukiskannya dengan baik, membentuknya dengan struktur terbaik dalam langkah kita, saya yakin kita tidak akan kalah dengan keadaan.
Pilihannya hanya ada 2 :
Menyerah dan kalah
atau
Berjuang dan menang.

Jika hari ini adalah hari terbaik yang kita punya.
Jika hari ini adalah hari kita.
Jika hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk kita.
Maka marilah kita bermimpi.

Apa yang akan terjadi pada 3 tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun kedepan.
Sebesar apa mimpi yang kita punya.
Seluas apa pencapaian yang ingin kita gapai.
Sejauh apa cita-cita yang ingin kata raih.
Jika setiap orang memilik impian yang berbeda, maka janganlah takut untuk bermimpi.
Bermimpilah yang besar.
Karena jika kita ingin menjadi besar, maka selalu berfikirlah untuk menjadi besar.

Mulai sekarang tetaplah berusaha melakukan yang terbaik.
Tidak peduli seberapa keras ombak itu menghantam kokohnya karangmu.
Tidak peduli seberapa besar badai itu menyambar tingginya tembok yang tlah kau bangun.
Karna yakinlah bahwa kau jauh lebih kuat dari apapun yang melemahkanmu.
Karna yakinlah bahwa pondasi yang kau buat jauh lebih tangguh dari apapun yang menghancurkanmu.

Karena satu hal, Allah tidak akan pernah tidur. Ia akan selalu melihatmu, mendengarkan seluruh ratapanmu, dan meridhoi setiap langkah terbaikmu.

Jadi berjuanglah dengan bahagia.
Bersama sejuta mimpi yang kita bangun.
Bersama binar-binar cahaya yang mampu menerangi keseluruhan langkah kita.
Karena bahagia itu sederhana.
Dan sangat sederhana ketika kita mau bersyukur.

Rabu, 30 April 2014

Jangan Pernah Kembali, Tuan

Halo tuan? masih ingatkah dengan saya? ya saya, wanita tempat persinggahan hati anda.
Apa kabar tuan? Tidakkah kau merindukan saya? ya, saya tau jawabannya. Pasti tidak.

Tuan, di ujung pertemuan ini.
Ya, saya katakan mungkin ini terakhir kalinya saya memandang anda dengan tatapan cinta, sayang dan sebagainya. Perasaaan yang nampaknya saya rasakan lebih dari cukup, dahulu. Segalanya hilang, hanya menyisakan sejuta sesak yang entah sampai kapan sembuhnya.

Luruh lantak seketika tuan, ketika saya melihat anda dengan dia, lagi. Entah dimana letak otak anda, entah dimana letak hati anda. Sudah anda lepaskan kah?

Anda terlalu cerdas tuan. Anda sungguh terlalu cerdas. Anda membuat dua hati melekat pada satu hati yang sama. Ya, tepat pada hati anda.

Saya berpikir tuan, siapa saya dimata anda? persinggahankah? atau hanya sekedar tempat pelampiasan sesaat dari dendam anda kepadanya?

Anda memeluk saya, di waktu yang sama juga anda menusuk saya dengan belati, lebih dari berkali-kali. Anda mengekang saya. Anda membuat saya tertunduk, terdiam, dan tanpa sadar. Anda mempermainkan saya lebih dari boneka. Dengan sakit ini saya berharap anda hanya "tersesat sesaat". Titik kefokusan dari keseluruhan saya hanya ada satu, dan hanya tertuju pada anda.

Saya berdiri, nampaknya seperti terlepas dari kesendirian, namun apakah? Saya tidak dapat menutup anda dari bayangan mata saya. Saya takut, entah kemana saya harus pergi. Saya tidak ingin melihat anda, lagi. Syaraf saya menjalar dengan sangat cepat. Berdetak dengan kencang tanpa bisa saya cegah. Tatapan anda membuat otak saya berhenti. Tuan, puaskah anda dengan kesegalanya ini? Apakah harus dengan cara ini anda membalas kesegala saya yang pernah melekat pada hati anda, "sepertinya".

Saya mengetahui, anda membenci saya tanpa perlu saya minta. Sekarang apa lagi yang anda inginkan dari saya? Saya sudah hancur, dan lebih dari berkeping-keping. Saya terpuruk, dan seperti tidak dapat mengontrol kesegalanya dengan lebih baik lagi dari ini. Anda membuat saya seperti kehilangan beberapa memori dari otak saya yang seharusnya masih bisa saya ingat. Anda membuat saya tidak dapat merasakan apa-apa lagi, mati rasa dengan segala apa yang anda lakukan. Anda pergi tanpa pamit. Meninggalkan saya dengan semua kepalsuan.

Tuan, sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk kembali. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk menggenggam jemari saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berjalan selangkah dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berada disamping saya lagi. Sungguh, saya tidak akan mensejajarkan pemikiran anda dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan menyempurnakan kesegala masa depan yang telah anda janjikan kepada saya lagi. Sungguh, saya tidak akan melekatkan hati saya ke hati anda lagi. Sungguh, sungguh, sungguh. Tidak akan ada cerita lagi tentang kita, ya saya dengan anda. Anda bukan lagi arah yang ingin saya tuju.  Banyak janji anda yang sudah saya dengar, namun semuanya telah anda langgar dengan sangat baik. Sungguh tuan, saya lelah.

Saya memaafkan anda tuan, atas kesegala hal yang pernah anda lakukan. Ucapan anda sudah tidak ada lagi yang ingin saya dengar. Saya memilih untuk diam, hanya berbicara dalam doa yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan. Trauma ini mungkin dalam waktu yang lama, yang tidak bisa saya prediksikan kapan masa berakhirnya. Saya memejamkan mata, berharap tidur ini tidak untuk selamanya. Saya bukan orang yang baik tuan, saya hanya berusaha untuk selalu berbuat baik sebisa yang saya mampu. Sungguh tuan, saya memaafkan anda dengan sangat baik, dan saya juga tidak akan pernah melupakannya, untuk selamanya.

Sungguh Tuan, jangan pernah kembali.

Senin, 31 Maret 2014

Tolong Buat Aku Lupa

Jelaskan padaku mengapa semua terjadi seperti ini. Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil diotakku hingga memenuhi relung-relung hatiku. Semua terjadi begitu cepat tanpa teori dan banyak basa basi. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itukah kau memulai menguasai hari-hariku?

Kamu jadi penyebab rasa semangatku. Kamu menjelma menjadi senyum yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Iya mungkin aku jatuh cinta. Entah kamu. Semua kulakukan secara diam-diam, begitu rapi hingga hatimu yang beku tidak pernah berhasil mencair. Semua kusembunyikan, hingga perasaanmu yang tidak pernah peka tetap saja tidak peduli pada gerak gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu. Aku pandai menyembunyikan banyak hal. Hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.

Aku tak bisa melupakanmu, sungguh. Aku selalu ingat caramu menatapku, caramu mencuri perhatianku. kerutan matamu yang aneh namun tetap terlihat mempesona dimataku. Hal-hal sederhana itu seakan-akan diciptakan untuk tidak dilupakan. Tolong buat aku lupa, karna aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.

Kita jarang punya kesempatan berbicara, maksudku berdua saja. Rasanya mustahil. Kamu dan aku begitu berbeda. Air dan api. Dingin dan panas. Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit kutebak. Kamu teka-teki yang punya banyak jawaban juga banyak tafsiran. Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kamu tujukan padaku. Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang  mungkin saja tak hanya kau katakan untukku. Aku takut mempercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara tersembunyi. Aku takut, aku takut, semakin takut jika perasaan ini bertumbuh kearah yang tidak kuinginkan.

Tolong hentikan langkahku jika memang segalanya yang kuduga benar-benar hal yang salah dimatamu. Tolong kembalikan aku ke jalanku sebelum aku mengganggu rute tujuanmu. Ketahuilah tampan, aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul diotakku seperti asap rokok yang menggantung di udara. Kamu seakan-akan nyata. Aku tak percaya ternyata kita bisa melangkah sejauh ini, dan selama ini juga aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu. Aku mulai menyukaimu. Diantara rindu yang selalu gagal aku ungkapkan, dalam rasa canggung yang belum kupahami. Tolong jangan pergi.


-Tolong Buat Aku Lupa, karya @dwitasaridwita :')-

Jumat, 28 Maret 2014

Bisakah Kau Bayangkan Rasanya Jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian dari hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk menbaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Jatuh cinta terjadi karna proses yang cukup panjang. itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi.

Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia. Dulu.. dulu aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kau tersenyum setiap hari, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir, sudah ada seseorang yang baru yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna, kau tak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagian hidupmu.

Jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya akan seperti ini. Kalau kau ingin tau bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam milyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah sususnan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkataan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kau paham? belum? tentu saja. Apa pedulimu padaku. Aku tak pernah ada dalam matamu. Aku tak selalu punya tempat dalam hatimu. Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya, aku selalu berusaha menganggap semuanya baik-baik saja.

Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang. Aku memimpikan lukaku akan segera kering dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun sampai kapan aku terus mencoba, sementara saat ini saja aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu, kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku membaca ini, ketika mataku tak kuat lagi untuk menangis. Seandainya, seandainya kau tau perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku. Mungkin, mungkin kamu akan berbalik arah memilihku sebagai tujuan, tapi aku hanyalah persinggahan.

Semoga kau tau aku berjuang aku berjuang setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu. aku berusaha keras setiap hari menerima kenyataaan ini. Bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku? Bisakah kau bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja? Kamu tidak bisa. tentu saja. Kamu tidak perasa.

-Bisakah Kau Bayangkan Rasanya Jadi Aku, karya @dwitasaridwita :)-

Secercah Kata

06 Februari 2013-
"Hidup, yang bisa aku ibaratkan seperti bianglala. ada kalanya dimana kita berada diposisi teratas, paling puncak dan paling tinggi, dengan semua rasa kesenangan yang tak dapat terbendungkan ketika kita disuguhkan dengan indahnya kelap kelip lampu-lampu kota yang nampak seperti bintang yang sangat banyak. Tapi ada kalanya pula kita juga harus siap ketika waktu kita telah habis untuk menikmatinya, ketika kita berada dibawah, walaupun ingin hati tetap berada diatas, tapi sadarlah karna bianglala pasti berputar entah kita dalam keadaan sadar ataupun tidak. Nikmati segalanya tentang hidup. Tidak peduli seberapa kita kuat, seberapa kita pintar, dan seberapa kita siap, namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita menikmati segala macam jenis rasa yang akan kita jalani."

11 Mei 2013-
"Berlelahlah engkau dahulu, karena dengan kelelahan itu kelak akan ngebawa engkau menjadi seorang yang berhasil."

01 Juni 2013-
"Untuk seseorang yang sedang memperjuangkanku,
untuk sebuah pondasi yang akan kita bangun bersama nantinya,
dan untuk hati yang sedang berjalan seiringan bersamaku,
dengarkan aku,
aku menyayangimu."

05 Juni 2013-
"Dari sekian banyaknya cerita yang pernah kita lalui bersama, selalu saja mengandung banyak arti dan pelajaran di dalamnya. Dan aku bangga bisa menjadi salah satu bagian dari cerita dalam kehidupmu."

19 Juni 2013-
"Jika ini adalah sebuah kesalahan terbesarku, maka izinkanlah aku untuk memperbaikinya Ya Allah. Engkau mengetahui, perasaan ini bukanlah yang bisa dipaksakan, lantas izinkanlah aku untuk menjaga hatiku dahulu. Aku pernah teramat sakit kemarin, dan aku belum siap untuk merasakan sakit itu kembali. Tolong cegah Tuhan, jangan buat aku semakin larut dalam sayang. Sedikit demi sedikit perasaan ini semakin sulit untuk dikontrol. Tolong ajari aku caranya mengikhlaskan, biarkan hati ini mengalir dengan cara yang baik, tanpa disakiti dan menyakiti siapapun."

13 September 2013-
"Kamu itu menyebalkan, bahkan ketika aku begitu sangat merindukanm, dan kamu tidak datang untuk menemuiku. Kamu itu menyebalkan, bahkan ketika kamu dengan segala keanehanmu itu seperti membunuhku secara perlahan. Tolong, dalami aku seperti layaknya aku yang selalu ingin mendalamimu. Tolong mengerti aku seperti halnya aku yang selalu berusaha untuk mengerti segala tentang kamu. Berdirilah tegak selayaknya seorang pemimpin, namun pahamilah, disini... di waktu ini... masih juga ada aku yang ingin berdiri tegak disampingmu, dan masih butuh untuk kau tegakkan, walaupun hanya sebatas perlahan."

18 September 2013-
"Tenggelamkan aku disini seketika, disaat langit itu mulai terang dan mekar berbunga.
Terpesona oleh nestapa dukua yang tak diinginkan untuk nampak.
Namun tetap saja dengan liarnya ia mengalir.
Aku. tetap dengan ke'aku'an yang tak kupastikan.
Menembus dilema yang tak kunjung menemukan titik terlancipnya.
Namun tetap saja memuja dengan nafas yang tak pernah berhenti.
Kamu. sadarkah? lagi dan lagi, disini masih ada lilin kecil yang sudah mulai meredup."

25 Oktober 2013-
"Sekarang sudah bukan waktunya lagi mempertanyakan bagaimana caranya untuk mengubah negeri ini, tapi dengan memaksimalkan seluruh kinerja dan kewajiban kita sebagai mahasiswa, saya yakin kita dapat mengubah bangsa ini menjadi lebih berkualitas dimata dunia."

13 Januari 2014-
"Peradaban di masa saat ini dapat mendewasakan kita dengan ranah yang berbeda dari masa lalu. Kau mampu membawaku jauh melewati batas waktu dari yang seharusnya. Sesaat kau lumpuhkan aku dengan perpaduan watak kita yang tak sama, namun seketika itu juga kau yang mampu membopongku, membawaku untuk menatap jauh lebih luas, hingga mimpi yang belum seharusnya aku gambarkan. Titikku disudut jenuhmu, ketika apa yang kau minta belum bisa untuk aku lakukan. Namun titikku tidak seharusnya ada disudut jenuhku. Bukan aku sekeras baja, tetapi karena hati kita yang berbeda. aku hanya seperti halnya lilin yang dapat leleh seketika saat kau nyalakan apinya. Kau nyalakan kau padamkan, kau nyalakan kau padamkan hingga habis jiwa raga ini kau buat. aku terlalu sulit untuk mendeskripsikan dirimu dengan sejuta maksud yang belum tentu memiliki arti yang sama. Bias ketika aku, namun tidak dapat kau lakukan juga."

24 Maret 2014-
"Jika hanya dengan mendengarkan saja cukup, kenapa harus dipaksa untuk berbicara? Isyarat yang mungkin hanya bisa dirasakan, namun itu sudah lebih dari cukup. Firasat ini tanpa pilihan. Dan senja ini tidak akan pernah berakhir ketika kau hanya terus berbisik tanpa ingin mengubahnya menjadi malam. Bintang tidak pernah tidur, ia hanya bersembunyi sementara dibalik terangnya matahari. Ia mengetahui, namun hanya berpura-pura seolah tidak mengerti apa-apa. Diam, dan hanya belajar menerima."

25 Maret 2014-
"Dua bintang. Senja dan terang. Segaris dan sejajar. Entah ditakdir mana kita akan bertemu. Biarkanlah puncak senja kita yang akan menentukan. Berlabuhlah jika ingin menetap, namun dermaga ini bukanlah sebuah persinggahan."