Jumat, 20 Maret 2020

Perihal Maaf dan Memaafkan

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.

Boleh bertanya?
Mengapa terlalu banyak pembeda.
Mengapa terlalu curang untuk diterima.
Mengapa terlalu sakit untuk ada.

Manusia datang dan pergi.
Membawa kisah dan kasihnya sendiri.
Membaca lan mengamati.
Membuang lan membenci.

Aku pun demikian.
Sama seperti kebanyakan.
Tanpa henti mengumpat sumpah serapah.
Tanpa henti meluap-luapkan amarah.

Barangkali dengan begitu, puas hati tanpa menyakiti.
Namun lupa jika kemudian, hati rusak karna dengki.
Tak henti berasumsi.
Tak henti berapi-api.

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Tak seimbang, jomplang.
Tak terpandang, sungsang.

Tapi,
Manusia bernyali tinggi pasti akan memaafkan.
Manusia bernyali tinggi pasti akan berdamai dengan keadaan.
Penuhi hati dengan afirmasi kebaikan.
Penuhi hati dengan bahagia tanpa butuh alasan.

Aku percaya.
Yang perih suatu saat pasti akan sembuh.
Yang letih suatu saat pasti akan tersentuh.
Yang tersisih suatu saat pasti akan utuh.
Yang terlatih suatu saat akan tumbuh.

Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Semuanya sudah termaafkan.
Biarlah waktu yang membuang.
Hingga lambat laun hilang tanpa kenangan.

-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2020, 12.12, maaf, memaafkan, dan termaafkan.

Jumat, 13 Maret 2020

BUTUH RUANG

Seringkali kita terlalu sibuk untuk ada, hadir, dan turut serta.
Seringkali kita terbiasa untuk menipu diri sendiri agar terlihat baik-baik saja.
Seringkali kita lupa bahwa kita hidup bukan hanya untuk membahagiakan orang lain.
Seringkali kita malah acuh pada kepentingan kita sendiri.

Sampai kapan mau terus seperti ini?
Sampai kapan mau terus berada dalam palsu yang kau ciptakan sendiri?
Sampai kapan mau terus menangis dalam kesunyian?
Sampai kapan mau terus terjebak dalam aman yang membuat dirimu sendiri justru tidak nyaman?

Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut tidak didengar?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut salah paham?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut justru akan menimbulkan masalah?
Terlalu takut untuk jujur karna terlalu takut tengkar dan melekatkan trauma?

Aku butuh ruang.
Aku butuh ruang untuk menata apapun yang kuinginkan.
Aku butuh ruang untuk melakukan apapun yang kumau.
Aku butuh ruang untuk mengatur dan membesarkan anakku dengan caraku sendiri.
Aku butuh ruang untuk menjadi aku dengan semua kenyamananku.

Aku butuh ruang tanpa batasan.
Aku butuh ruang untuk menjadi diriku sendiri.

-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2020, 13.20, butuh ruang unttuk sendiri.

Senin, 05 November 2018

MATAHARI

Halo Matahari,
Bintang raksasa,
Bergaya grafitasi tinggi,
Si penguasa tata surya.

Matahari,
Bumi hangat hari ini,
Karenamu, si pemancar cahaya terbaik bumi ini.
Kusampaikan rinduku lewat celah-celah tirai jendela kamarku.
Kau menyapa lewat sinar yang kau pancarkan tepat mengenai wajahku.

Matahari,
Banyak yang mengeluhkan terikmu,
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah energi surya.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber penerangan terbesar di dunia.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber utama bagi kehidupan mahluk hidup.

Matahari,
Angin yang kau keluarkan dari atas atmosfermu bahkan bisa menjangkau keseluruhan tata surya.
Tanpamu kehidupan tidak akan berjalan baik.
Kau begitu kuat, begitu tangguh dengan dirimu sendiri.

Matahari,
Warnamu penyemangat.
Pemberi riang bagi hati yang tersayat.
Pemberi ruang bagi manusia yang terus bergerak.
Pencipta peluang bagi jiwa-jiwa pendobrak.
Pelukis senyum bagi raga yang terus bersorak.

-Istiqitsi
Bontang, 6 November 2018, 06.13, semangat pagi matahariku.

Minggu, 19 Maret 2017

HUJAN

Hujan jatuh tanpa cegah.
Basahi bumi meratapi.
Langit pucat tanpa ubah.
Rintik air buyarkan sepi.

Hujan jembatan.
Pengantar pesan dari langit kepada bumi.
Hujan keajaiban.
Uap air yang dikondensasikan menjadi butiran air
dari atmosfer ke daratan pertiwi.

Udara jenuh menjelang hujan.
Presipitasi jatuh dan menguap sebelum menyentuh daratan.
Wujud virga seperti yang biasa kita rasakan.
Kilat, petir datang pun bukan karna tanpa alasan.

Hujan simbol keberkahan.
Penolong, pemenuh kebutuhan.
Hujan penanda kejujuran.
Penyeimbang, pemusnah cerah dalam kegelapan.
Hujan adalah kedamaian.
Penguat, pemeluk jiwa dalam ketenangan.

Hujan, turunlah deras.
Bergejolaklah keras.
Hingga kau lelah dalam rintikanmu.
Hingga gerimis berangsur-angsur mengering.
Dan pelangi hadir mewarnai hari,
Dan pelangi hadir menghangatkan hati.

-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2017, 00.05, dalam hujan merengkuh mimpi.

Senin, 13 Maret 2017

LANGIT

Langit berbisik, ia ingin sekali menangis malam ini.
Mendung tak berujung, namun tak juga lekas kau tumpahkan ke tanah.
Tertahan.
Senja menghitam di penghujung petang.

Langit, kau luas.
Gas yang ada padamu tak terbatas.
Udara membiaskan cahaya biru lebih banyak dari matahari.
Warnamu mengagumkan.
Biru yang menyejukkan.
Jingga yang menenangkan.
Dan hitam yang melukiskan betapa manisnya bintang dan bulan yang saling menerangi.

Langit, kau adalah atap.
Pelindung dalam setiap harap.
Pemersatu doa dalam setiap ratap.

Langit, mengapa kau terus mendung?
Mengapa kau tak segera bersenandung?
Bernyanyilah dengan ribuan rintik hujan yang akan mengobati lukamu.
Menarilah dibawah nyanyian derasmu itu, usir sepi dalam sesakmu.
Biarlah sajak dalam bait ini memainkan sanjungannya untukmu.
Lekaslah tersenyum dan berbahagialah dengan cerahmu.
Karna kami sangat merindukanmu.

-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2017, 21.53, untukmu Langit.

Minggu, 19 Februari 2017

Denganmu

Aku ingin terbang.
Mengudara bebas.
Menjelajahi berbagai dimensi.
Melintasi samudra waktu.
Berkenala tanpa ganggu.

Aku ingin menyebrangi Venus.
Berselancar di piringan Saturnus.
Menemukanmu di Uranus.
dan berdansa denganmu di radar Neptunus.

Aku akan menyentuhmu di ujung mata.
Menggenggammu dengan cerita.
Memelukmu dengan nada.
Menciummu dengan tawa.

Galaksi ini kecil.
Cinta dengan makna dalam canggungnya.
Canggung yang dicapai dalam bahasanya.
Bahasa yang diterjemah oleh satelit pemancarnya.

Jagat raya ini menyeluruh.
Dunia kita utuh.
Kau dan aku.
Dua dan satu.

Denganmu,
Gundah membahagiakan.
Gerah menyejukkan.
Gelisah menenangkan.
Selamanya akan begitu bukan?

-Istiqitsi
Malang, 19 Februari 2017, 17.45, denganmu, bersamamu, melegakan.

Minggu, 29 Januari 2017

Sayang Rasa Lemon

Aristoteles mendefinisikan sahabat sejati adalah “satu jiwa di dalam dua jasad”. Seseorang juga pernah mengatakan bahwa “banyak sekali orang yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya sahabat sejatilah yang jejaknya tetap tertinggal di hatimu.” Dia tidak pernah pergi meskipun jarang komunikasi, dia tak akan pernah hilang meskipun terpisah oleh ribuan kilometer jarak yang terbentang.

Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang *ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu, menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.

Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh. Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.

Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata dibandingkan ungkapan.

Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka - bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak pernah meninggalkanmu seorang diri.

Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin (awet tanpa padam).
 
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih. Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.

Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤

-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44, sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.