Aristoteles mendefinisikan sahabat sejati adalah “satu jiwa di dalam
dua jasad”. Seseorang juga pernah mengatakan bahwa “banyak sekali orang
yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya sahabat sejatilah yang
jejaknya tetap tertinggal di hatimu.” Dia tidak pernah pergi meskipun
jarang komunikasi, dia tak akan pernah hilang meskipun terpisah oleh
ribuan kilometer jarak yang terbentang.
Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu
dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang
*ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu,
menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang
memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang
akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa
perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh
kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu
dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan
dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.
Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu
hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu
tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh.
Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu
memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti
dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia
akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.
Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia
rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak
akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI
percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa
makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata
dibandingkan ungkapan.
Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan
selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua
kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka -
bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu
memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak
pernah meninggalkanmu seorang diri.
Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam
duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak
warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa
pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin
(awet tanpa padam).
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan
ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam
tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih.
Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.
Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤
-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44,
sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.