Halo tuan? masih ingatkah dengan saya? ya saya, wanita tempat persinggahan hati anda.
Apa kabar tuan? Tidakkah kau merindukan saya? ya, saya tau jawabannya. Pasti tidak.
Tuan, di ujung pertemuan ini.
Ya, saya katakan mungkin ini terakhir kalinya saya memandang anda dengan tatapan cinta, sayang dan sebagainya. Perasaaan yang nampaknya saya rasakan lebih dari cukup, dahulu. Segalanya hilang, hanya menyisakan sejuta sesak yang entah sampai kapan sembuhnya.
Luruh lantak seketika tuan, ketika saya melihat anda dengan dia, lagi. Entah dimana letak otak anda, entah dimana letak hati anda. Sudah anda lepaskan kah?
Anda terlalu cerdas tuan. Anda sungguh terlalu cerdas. Anda membuat dua hati melekat pada satu hati yang sama. Ya, tepat pada hati anda.
Saya berpikir tuan, siapa saya dimata anda? persinggahankah? atau hanya sekedar tempat pelampiasan sesaat dari dendam anda kepadanya?
Anda memeluk saya, di waktu yang sama juga anda menusuk saya dengan belati, lebih dari berkali-kali. Anda mengekang saya. Anda membuat saya tertunduk, terdiam, dan tanpa sadar. Anda mempermainkan saya lebih dari boneka. Dengan sakit ini saya berharap anda hanya "tersesat sesaat". Titik kefokusan dari keseluruhan saya hanya ada satu, dan hanya tertuju pada anda.
Saya berdiri, nampaknya seperti terlepas dari kesendirian, namun apakah? Saya tidak dapat menutup anda dari bayangan mata saya. Saya takut, entah kemana saya harus pergi. Saya tidak ingin melihat anda, lagi. Syaraf saya menjalar dengan sangat cepat. Berdetak dengan kencang tanpa bisa saya cegah. Tatapan anda membuat otak saya berhenti. Tuan, puaskah anda dengan kesegalanya ini? Apakah harus dengan cara ini anda membalas kesegala saya yang pernah melekat pada hati anda, "sepertinya".
Saya mengetahui, anda membenci saya tanpa perlu saya minta. Sekarang apa lagi yang anda inginkan dari saya? Saya sudah hancur, dan lebih dari berkeping-keping. Saya terpuruk, dan seperti tidak dapat mengontrol kesegalanya dengan lebih baik lagi dari ini. Anda membuat saya seperti kehilangan beberapa memori dari otak saya yang seharusnya masih bisa saya ingat. Anda membuat saya tidak dapat merasakan apa-apa lagi, mati rasa dengan segala apa yang anda lakukan. Anda pergi tanpa pamit. Meninggalkan saya dengan semua kepalsuan.
Tuan, sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk kembali. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk menggenggam jemari saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berjalan selangkah dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berada disamping saya lagi. Sungguh, saya tidak akan mensejajarkan pemikiran anda dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan menyempurnakan kesegala masa depan yang telah anda janjikan kepada saya lagi. Sungguh, saya tidak akan melekatkan hati saya ke hati anda lagi. Sungguh, sungguh, sungguh. Tidak akan ada cerita lagi tentang kita, ya saya dengan anda. Anda bukan lagi arah yang ingin saya tuju. Banyak janji anda yang sudah saya dengar, namun semuanya telah anda langgar dengan sangat baik. Sungguh tuan, saya lelah.
Saya memaafkan anda tuan, atas kesegala hal yang pernah anda lakukan. Ucapan anda sudah tidak ada lagi yang ingin saya dengar. Saya memilih untuk diam, hanya berbicara dalam doa yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan. Trauma ini mungkin dalam waktu yang lama, yang tidak bisa saya prediksikan kapan masa berakhirnya. Saya memejamkan mata, berharap tidur ini tidak untuk selamanya. Saya bukan orang yang baik tuan, saya hanya berusaha untuk selalu berbuat baik sebisa yang saya mampu. Sungguh tuan, saya memaafkan anda dengan sangat baik, dan saya juga tidak akan pernah melupakannya, untuk selamanya.
Sungguh Tuan, jangan pernah kembali.
Rabu, 30 April 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
