Minggu, 19 Maret 2017

HUJAN

Hujan jatuh tanpa cegah.
Basahi bumi meratapi.
Langit pucat tanpa ubah.
Rintik air buyarkan sepi.

Hujan jembatan.
Pengantar pesan dari langit kepada bumi.
Hujan keajaiban.
Uap air yang dikondensasikan menjadi butiran air
dari atmosfer ke daratan pertiwi.

Udara jenuh menjelang hujan.
Presipitasi jatuh dan menguap sebelum menyentuh daratan.
Wujud virga seperti yang biasa kita rasakan.
Kilat, petir datang pun bukan karna tanpa alasan.

Hujan simbol keberkahan.
Penolong, pemenuh kebutuhan.
Hujan penanda kejujuran.
Penyeimbang, pemusnah cerah dalam kegelapan.
Hujan adalah kedamaian.
Penguat, pemeluk jiwa dalam ketenangan.

Hujan, turunlah deras.
Bergejolaklah keras.
Hingga kau lelah dalam rintikanmu.
Hingga gerimis berangsur-angsur mengering.
Dan pelangi hadir mewarnai hari,
Dan pelangi hadir menghangatkan hati.

-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2017, 00.05, dalam hujan merengkuh mimpi.

Senin, 13 Maret 2017

LANGIT

Langit berbisik, ia ingin sekali menangis malam ini.
Mendung tak berujung, namun tak juga lekas kau tumpahkan ke tanah.
Tertahan.
Senja menghitam di penghujung petang.

Langit, kau luas.
Gas yang ada padamu tak terbatas.
Udara membiaskan cahaya biru lebih banyak dari matahari.
Warnamu mengagumkan.
Biru yang menyejukkan.
Jingga yang menenangkan.
Dan hitam yang melukiskan betapa manisnya bintang dan bulan yang saling menerangi.

Langit, kau adalah atap.
Pelindung dalam setiap harap.
Pemersatu doa dalam setiap ratap.

Langit, mengapa kau terus mendung?
Mengapa kau tak segera bersenandung?
Bernyanyilah dengan ribuan rintik hujan yang akan mengobati lukamu.
Menarilah dibawah nyanyian derasmu itu, usir sepi dalam sesakmu.
Biarlah sajak dalam bait ini memainkan sanjungannya untukmu.
Lekaslah tersenyum dan berbahagialah dengan cerahmu.
Karna kami sangat merindukanmu.

-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2017, 21.53, untukmu Langit.