Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Boleh bertanya?
Mengapa terlalu banyak pembeda.
Mengapa terlalu curang untuk diterima.
Mengapa terlalu sakit untuk ada.
Manusia datang dan pergi.
Membawa kisah dan kasihnya sendiri.
Membaca lan mengamati.
Membuang lan membenci.
Aku pun demikian.
Sama seperti kebanyakan.
Tanpa henti mengumpat sumpah serapah.
Tanpa henti meluap-luapkan amarah.
Barangkali dengan begitu, puas hati tanpa menyakiti.
Namun lupa jika kemudian, hati rusak karna dengki.
Tak henti berasumsi.
Tak henti berapi-api.
Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Tak seimbang, jomplang.
Tak terpandang, sungsang.
Tapi,
Manusia bernyali tinggi pasti akan memaafkan.
Manusia bernyali tinggi pasti akan berdamai dengan keadaan.
Penuhi hati dengan afirmasi kebaikan.
Penuhi hati dengan bahagia tanpa butuh alasan.
Aku percaya.
Yang perih suatu saat pasti akan sembuh.
Yang letih suatu saat pasti akan tersentuh.
Yang tersisih suatu saat pasti akan utuh.
Yang terlatih suatu saat akan tumbuh.
Perihal maaf dan memaafkan.
Perihal yang lalu dan yang sekarang.
Semuanya sudah termaafkan.
Biarlah waktu yang membuang.
Hingga lambat laun hilang tanpa kenangan.
-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2020, 12.12, maaf, memaafkan, dan termaafkan.
