Minggu, 29 Januari 2017

Sayang Rasa Lemon

Aristoteles mendefinisikan sahabat sejati adalah “satu jiwa di dalam dua jasad”. Seseorang juga pernah mengatakan bahwa “banyak sekali orang yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya sahabat sejatilah yang jejaknya tetap tertinggal di hatimu.” Dia tidak pernah pergi meskipun jarang komunikasi, dia tak akan pernah hilang meskipun terpisah oleh ribuan kilometer jarak yang terbentang.

Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang *ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu, menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.

Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh. Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.

Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata dibandingkan ungkapan.

Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka - bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak pernah meninggalkanmu seorang diri.

Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin (awet tanpa padam).
 
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih. Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.

Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤

-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44, sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.

0 komentar:

Posting Komentar