Kamis, 28 Juli 2016

Berbagi Motivasi

Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun, yang berjudul "THE LAST LECTURE" (Pengajaran Terakhir). Dimana buku tersebut menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.

Buku The Last Lecture isinya membahas tentang, KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA MENJADI LEBIH BAIK, yaitu yang terdiri atas :
A. Personality
B. Community
C. Life

Berikut penjelasannya, check it out!

Pertama tentang kepribadian diri (PERSONALITY) :

1. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.

2. Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif

3. Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.

4. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.

5. Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk bergosip.

6. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat Anda tertidur).

7. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.

8. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.

9. Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.

10. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak menganggu masa ini.

11. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

12. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.

13. Tersenyumlah dan tertawalah.

14. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan, belajarlah untuk ikhlas.


Kedua membahas tentang bermasyarakat (COMMUNITY) :

15. Hubungi keluarga Anda sesering mungkin.

16. Setiap hari berikan sesuatu yang baik untuk orang lain.

17. Maafkan setiap orang untuk segala hal.

18. Cobalah untuk menghabiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.

19. Cobalah untuk membuat paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.

20. Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.

21. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik.

Ketiga berbicara tentang kehidupan (LIFE) :

22. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.

23. Sadarilah bahwa Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.

24. Lakukan hal yang benar.

25. Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah jika Anda mau berusaha lebih keras.

26. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!

27. Yang terbaik mungkin belumlah tiba, tapi PASTI akan tiba pada waktunya.

28. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau menyedihkan.

29. Ketika Anda bangun di pagi hari, berterimakasihlah pada Tuhan untuk hidup yang telah Anda lewati. Berterimakasihlah lebih banyak, bersyukurlah dalam segala hal.

30. Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bahagia. So, always be happy fellas!


Pengetahuan ini tidak akan memperkaya kita dengan harta, namun pengetahuan ini akan memperkaya ilmu pengetahuan kita, dan semoga juga bisa bermanfaat untuk orang lain disekitar kita.

"Sebarkanlah kebaikan, maka kebaikan yang sama juga akan terus mengikutimu."

-istiqitsi

Selasa, 26 Juli 2016

Dibatas Pertemuan

Ada rindu yang datang diam-diam, lalu menghilang.
Menyeruak ke sela-sela nadi, lalu pergi.
Menembus sistem saraf pusat, namun ditolak mentah oleh sistem saraf perifer.
Mengakui 5 persen kesadaran, sementara lebihnya hanya acuh tak tersentuh.

Raga pergi.
Jiwa sepi sendiri.
Hati mati terhenti.
Mengingat yang pergi tanpa kembali.

Waktu berbatas.
Membawamu mengudara bebas.
Berbaur lepas.
Melintasi jutaan atlas.

Dermaga tanpa rona.
Gelap gulita seusai senja.
Kapal bersandar ditepian.
Awan mendung tanpa hujan.

Rindu serangkaian.
Dikebumikan kemudian.
Habis terkuras.
Lekas berbekas.

Sudah setengah abad usiamu -seharusnya-.
Ini tahun ke-enam setelah kepergianmu -selamanya-.

Dibatas pertemuan,
Rinduku dalam kerelaan.
Dibatas pertemuan,
Senyumku dalam kelegaan.
Dibatas pertemuan,
Bahagiaku dalam keikhlasan.

Hujan disini.
Dalam rinainya aku hanya menikmati.
Bintang akan tetap menjadi bintang tanpa perlu dimaknai.

Terimakasih.
Kau (sempat) hadir mewarnai duniaku.
Pengeluh sepertiku slalu terinspirasi karenamu.

Dibatas pertemuan,
Selamat ulang tahun, Raf.
Dalam dimensi yang berbeda.
Semoga kamu selalu bahagia disana.


26 Juli 2016,
kerinduan dibatas pertemuan.

Senin, 25 Juli 2016

Cinta yang Sempurna

"Mencintai manusia seperlunya, mencintai Allah sepenuhnya."

Banyak orang yang salah kaprah dengan makna "cinta" yang sedang mereka jalani, seakan-akan selalu "mendewakan" cinta tanpa memahami maksudnya. Menyerahkan keseluruhan rasa tanpa mendalami tujuannya. Mempertaruhkan separuh (seluruh) waktu hidupnya hanya dengan harapan akan mendapatkan cinta yang sempurna. Tidak banyak orang yang mengerti tentang makna cinta yang hakiki, mungkin termasuk juga denganku. Aku pun juga sama, merasa bahwa cinta adalah segalanya. Hingga tanpa sadar dalam setiap waktu kehidupanku hanya diperdaya oleh cinta.

Sering terbersit dalam pemikiran tentang konsep "cinta yang sempurna", namun dalam kenyataannya justru malah "cinta yang salah" yang kudapatkan. Terjebak dalam rasa yang selalu dipenuhi dengan gundah, gelisah. Cinta yang hanya membahagiakan sesaat, selebihnya hanya menibulkan kekecewaan yang berakhir dengan luka dalam jangka waktu yang bisa terbilang lama masa pemulihnya. Karena cinta, kita sering merasa dijadikan sebagai "korban". Korban perasaan yang nantinya membuat kita jadi baper (bawa perasaan), mengaitkan kesemuanya menjadi "atas nama cinta". Menangis karna cinta, tertawa karna cinta, terluka karna cinta, bahagia pun (seakan-akan) karna cinta.

Kita banyak mengingat hal-hal penting tentang cinta, namun sebaliknya kita sering lupa atau sengaja melupakan Sang Maha Pemberi Cinta itu sendiri. Sadar tidak? Kita hanya akan mengingat Allah ketika sedang dilanda masalah, selebihnya, rasa syukur hilang entah kemana ketika kita sedang bahagia. Bukan hanya itu, terkadang ketika sedang dalam masalah pun, kita justru su'udzon kepada Allah dan menyalahkan orang lain. Dengan pintarnya kita selalu mengoreksi orang lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri. Mengeluh tiada henti tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah dari diri kita sendiri. Kita mempercayai seseorang, mempertaruhkan seluruh rasa percaya itu kepada orang yang bahkan belum tentu bisa dipercaya. Kita mengagungkan seseorang yang kita anggap bisa menolong kita dalam setiap situasi kehidupan. Kita lupa bahwa mereka pun juga sama seperti kita, sama-sama mahluk yang berasal dari tanah, dan nantinya juga akan kembali ke tanah. 

Salah seorang Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, mengatakan, "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia". Lalu untuk apa kita masih berharap lebih kepada manusia yang notabenenya juga sama seperti kita? Oleh karenanya ingatlah, bahwa hanya Allah Sang Maha Penolong, hanya Allah Sang Maha Pelindung, hanya Allah Sang Maha dari segala Maha di Bumi dan seluruh jagad raya ini. Kitapun juga milik Allah, yang (sedang) dipinjami raga untuk hidup, yang diberikan keleluasaan untuk memilih kearah mana kita akan menuju nantinya.

Saudaraku, bangkit dan berjuanglah dengan cara kita masing-masing tanpa harus menyingkirkan orang lain, majulah tanpa harus mematahkan semangat yang lainnya. Jika kita merasa dijatuhkan, maka berdirilah. Jika kita merasa dibenci, maka bersyukurlah. Ingatlah, pohon mangga yang dilempari tahi sapi akan tumbuh jauh lebih subur, kenapa? Karena kita dapat menjadikan tahi sapi tersebut sebagai pupuk untuk membuat "pohon" kita berbuah lebih banyak. Bahkan akan lebih baik lagi jika kita bisa membagi "buah" tersebut dengan cara yang manis kepadanya yang melemparkan tahi sapi itu ke kita, ungkapkanlah rasa terimakasih, karenanya kita bisa tumbuh subur menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Saudaraku, kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam berpijak di dunia ini. Silahkan berlomba sekuat kemampuan yang kita miliki, namun berkompetisi dalam hal kebaikan adalah yang terbaik. Jangan menyerah! Selamat berjuang! Karena pada akhirnya nanti, hanya Allah-lah yang berhak mengadili. Percayakan kepada Allah seluruh rasa cinta dan kepercayaan kita, karena Allah akan memberikan kita yang terbaik, dan tidak akan pernah mengecewakan. Maka percayalah.

Senin, 01 Februari 2016

Tolong Berhenti

Apa yang membuatmu susah tidur hampir di setiap malam?
Apakah ketakutan?
Kesepian?
Kegelisahan?
Pikiran?
atau bayangan -masa lalumu-?

Apakah sakit tak membuatmu jera?
Mengingatnya sebagai luka.
Namun tetap kau lakukan hampir di setiap harinya.

Apakah tak bisa kau beralih?
Berpindah tanpa pedih.
Berjalan tanpa perih.
Bergerak tanpa sedih.

Apakah tak bisa kau sadari?
Masa lalumu hanyalah sebuah memori.
Kenangan hanya bisa kau resapi.
Bukan untuk kau sesali.
dan sebesar apapun keinginanmu takkan bisa membuatmu tuk kembali.

Untukmu wahai hati.
Usaikanlah disini.
Cobalah mengerti.
dan jangan diulangi.

-Istiqitsi
Malang, 1 Februari 2016, 22:45, tolonglah berhenti.

Minggu, 17 Januari 2016

KUNAMAI DIA, BINTANG

Hai senja, apa kabar dengan masa lalu?
Apakah baik-baik saja disana?

Hai senja, kemarin aku melihat langit mendung sebelum menyambutmu.
Apakah sama dengan perasaanmu?

Hai senja, aku masih baik-baik saja disini.
Dan pelangiku masih tetap sama.

Senja, kali ini aku ingin menyapamu dengan senyum.
Keajaiban warnamu mungkin dicintai oleh kebanyakan orang, namun bagiku tetaplah pelangi yang selalu kurindukan.

Senja, aku masih ingat ketika kau menyapaku dengan spontan.
Aku masih ingat ketika kau melarutkanku dalam jalan hidup yang pernah tak ingin kubagi dengan yang lainnya.
Aku masih ingat ketika kau memudarkan titik fokusku kepadanya dan mengalihkannya untuk berfokus ke kamu.
Aku masih ingat ketika kau..... seperti tak ada habisnya ketika mengingatmu.

Senja, terkadang senyumanmu tak pernah bisa menjauh dari benakku.
Senja, terkadang tatapan haruku tak pernah bisa meninggalkanmu.
Senja, jika memang kini aku sedang merindukanmu.
Aku harap kau tetap terjaga disana.
Walaupun waktumu sangatlah singkat, tetapi kamu mampu menghipnotis banyak orang dalam hal perubahan yang baik.

Senja, mungkin kau hanya sebatas serpihan masa lalu yang tak dapat kuperpanjang masa berlakunya.
Begitupun juga denganku yang tak dapat kau gapai.
Dunia kita berbeda.

Kini sudah bukan waktunya lagi kita bertanya dalam syahdunya doa kepada Tuhan.
Kini hanya satu bintang yang dapat mengenang tentang kita.
Mungkin kamu merindukanku, dan mungkin juga aku yang merasakan hal yang sama.
Saat ini, apakah kau baik-baik saja disana?

Waktumu telah habis, dengan meninggalkan sejuta kenangan yang tak pernah habis untuk diceritakan.
Aku telah menguburmu dalam angan.
Namun terkadang aku menggalimu lagi dalam setiap pikiranku.
Aku terjebak dalam masa laluku, tetapi takkan pernah kudalami.
Kisah kita bukan seperti bintang yang tidak pernah meninggalkan bulan.
Kisah kita bukan seperti romeo dan julliet yang selalu berbekaskan keromantisan.
Kisah kita mungkin seperti malam dan siang yang hanya berbataskan senja.
Dan aku menikmati detik-detik pertemuan kita.
Sekejap, tapi menancap.

Sekarang, akan kugantikan namamu menjadi satu bintang yang terang.
Teruslah bersinar tanpa pernah padam.
Sementara aku, akan kulanjutkan hidupku.
Akan kuwujudkan semua impianku yang pernah kubagi denganmu.
Jangan khawatir, pelangi sudah berada tepat disisiku.
Dan dia pasti akan menjagaku selayaknya kamu dulu.

Bintang.. akan kutemani kau dalam setiap rentetan doaku pada Tuhan.
Akan ku-ukirkan setiap aku dan kamu menjadi suatu wadah di dalam kenangan.
Terimakasih untuk setiap kamu yang sempat menjadi sempurnaku di masa lalu.
Terimakasih untuk semua kita yang tak akan pernah bisa kita ulangi, meskipun hanya sekali.
Kini tidurlah dengan nyenyak dalam pelukan Tuhan.
Semoga bahagia di surga.


untukmu,
MRHL
Malang, 17 Januari 2016.

Rabu, 13 Mei 2015

Labirin

Siapa yang dapat menerka apa yang akan terjadi dalam hidup yang belum pernah kita tempuh? Apakah kita dapat menentukan arahnya? Ataukah kita bisa menjamin bahwa hidup ini akan selalu baik-baik saja?

Mungkin.. kita hanya dapat memprediksi rute yang akan kita lewati, tanpa bisa memastikan rute itu tepat atau tidak. Sebab hidup ini bak labirin yang sangat besar dan rumit. mungkin kita melangkah dengan benar namun ada kalanya kita salah dan harus berputar balik mencari jalan keluar.

Saat ini yang kuketahui aku sedang berada di dalam sebuah labirin. Berjalan dengan lunglai tapi tetap ingin terus berjalan. Aku ingin rute ini segera berakhir. Seringnya kuterseok, terbelenggu, dan patah asa dalam langkahku sendiri. Labirin ini luas dan tanpa cahaya. Bahkan ketika otak dan hati seakan sedang berdebat hebat pun, seperti masih ada seorang malaikat yang berbisik lirih dan terus mengajakku berjalan perlahan.

Bak labirin, aku tau aku tidak sendiri disana, banyak yang mendahuluiku dengan cepat, tapi nampaknya aku mulai menikmati perjalananku ini. Ya, aku mulai menikmati teka-teki labirin ini. Aku pelajari setiap sudutnya, aku mulai mengatur ulang rute dan garis finishnya, dan aku yakin AKU PASTI BISA! Iya, aku bisa menempuhnya walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama.

Labarin ini membuatku lebih berani melakukan banyak hal yang menurutku ajaib. Labirin ini membuatku mencintai kekuranganku, mengangkatnya tinggi, dan menjadikannya sebuah kekuatan. Labirin ini membuatku hidup tangguh dengan semangat baru. Dan labirin ini yang membuatku bahagia, mempertemukanku dengan mereka orang-orang hebat tak bertopeng yang menggandengku erat dan mengajakku bersama-sama menuju puncak.

Jika memang belum sekarang, aku tidak akan menyesalinya. Karena sungguh, kebahagiaan itu adil, dan keadilan itu kita sendiri yang bisa menciptakannya. Jadi, aku akan memilih untuk terus bahagia😉

Minggu, 15 Maret 2015

MOTIVASI DIRI

...Bismillahirrahmanirrahim...


Wahai Kawanku,
Hari mari kita panjatkan syukur yang besar kepada Sang Pencipta.
Karena atas keberkahan yang ia berikan, yang luar biasa banyaknya.
Ia berikan kita hidup yang layak.
Ia berikan kita kesehatan dan kerangka tubuh yang lengkap.
Ia berikan kita keluarga yang baik.
Ia berikan kita sahabat dan lingkungan hidup yang positif.
Dan ia berikan semua apa yang kita butuhkan.

Lalu apa yang membuat kita masih banyak mengeluh hingga saat ini?
Kegagalan kah?
Ketidak-beruntungan kah?
atau hidup yang tak sebaik dengan apa yang kita harapkan?

Iya memang. Hidup memang tak semudah seperti kita membolak-balikkan telapak tangan ataupun membuat garis lurus.
Ada kalanya berbelok dan berliku.
Tapi sadarkah kita bahwa proses itulah yang akan membuat hidup kita jauh lebih menarik jika kita menikmatinya.
Sulit?
Rumit?
Iya memang. Tapi ketika kita mampu untuk melukiskannya dengan baik, membentuknya dengan struktur terbaik dalam langkah kita, saya yakin kita tidak akan kalah dengan keadaan.
Pilihannya hanya ada 2 :
Menyerah dan kalah
atau
Berjuang dan menang.

Jika hari ini adalah hari terbaik yang kita punya.
Jika hari ini adalah hari kita.
Jika hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk kita.
Maka marilah kita bermimpi.

Apa yang akan terjadi pada 3 tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun kedepan.
Sebesar apa mimpi yang kita punya.
Seluas apa pencapaian yang ingin kita gapai.
Sejauh apa cita-cita yang ingin kata raih.
Jika setiap orang memilik impian yang berbeda, maka janganlah takut untuk bermimpi.
Bermimpilah yang besar.
Karena jika kita ingin menjadi besar, maka selalu berfikirlah untuk menjadi besar.

Mulai sekarang tetaplah berusaha melakukan yang terbaik.
Tidak peduli seberapa keras ombak itu menghantam kokohnya karangmu.
Tidak peduli seberapa besar badai itu menyambar tingginya tembok yang tlah kau bangun.
Karna yakinlah bahwa kau jauh lebih kuat dari apapun yang melemahkanmu.
Karna yakinlah bahwa pondasi yang kau buat jauh lebih tangguh dari apapun yang menghancurkanmu.

Karena satu hal, Allah tidak akan pernah tidur. Ia akan selalu melihatmu, mendengarkan seluruh ratapanmu, dan meridhoi setiap langkah terbaikmu.

Jadi berjuanglah dengan bahagia.
Bersama sejuta mimpi yang kita bangun.
Bersama binar-binar cahaya yang mampu menerangi keseluruhan langkah kita.
Karena bahagia itu sederhana.
Dan sangat sederhana ketika kita mau bersyukur.