Banyak orang yang salah kaprah dengan makna "cinta" yang sedang mereka jalani, seakan-akan selalu "mendewakan" cinta tanpa memahami maksudnya. Menyerahkan keseluruhan rasa tanpa mendalami tujuannya. Mempertaruhkan separuh (seluruh) waktu hidupnya hanya dengan harapan akan mendapatkan cinta yang sempurna. Tidak banyak orang yang mengerti tentang makna cinta yang hakiki, mungkin termasuk juga denganku. Aku pun juga sama, merasa bahwa cinta adalah segalanya. Hingga tanpa sadar dalam setiap waktu kehidupanku hanya diperdaya oleh cinta.
Sering terbersit dalam pemikiran tentang konsep "cinta yang sempurna", namun dalam kenyataannya justru malah "cinta yang salah" yang kudapatkan. Terjebak dalam rasa yang selalu dipenuhi dengan gundah, gelisah. Cinta yang hanya membahagiakan sesaat, selebihnya hanya menibulkan kekecewaan yang berakhir dengan luka dalam jangka waktu yang bisa terbilang lama masa pemulihnya. Karena cinta, kita sering merasa dijadikan sebagai "korban". Korban perasaan yang nantinya membuat kita jadi baper (bawa perasaan), mengaitkan kesemuanya menjadi "atas nama cinta". Menangis karna cinta, tertawa karna cinta, terluka karna cinta, bahagia pun (seakan-akan) karna cinta.
Kita banyak mengingat hal-hal penting tentang cinta, namun sebaliknya kita sering lupa atau sengaja melupakan Sang Maha Pemberi Cinta itu sendiri. Sadar tidak? Kita hanya akan mengingat Allah ketika sedang dilanda masalah, selebihnya, rasa syukur hilang entah kemana ketika kita sedang bahagia. Bukan hanya itu, terkadang ketika sedang dalam masalah pun, kita justru su'udzon kepada Allah dan menyalahkan orang lain. Dengan pintarnya kita selalu mengoreksi orang lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri. Mengeluh tiada henti tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah dari diri kita sendiri. Kita mempercayai seseorang, mempertaruhkan seluruh rasa percaya itu kepada orang yang bahkan belum tentu bisa dipercaya. Kita mengagungkan seseorang yang kita anggap bisa menolong kita dalam setiap situasi kehidupan. Kita lupa bahwa mereka pun juga sama seperti kita, sama-sama mahluk yang berasal dari tanah, dan nantinya juga akan kembali ke tanah.
Salah seorang Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, mengatakan, "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia". Lalu untuk apa kita masih berharap lebih kepada manusia yang notabenenya juga sama seperti kita? Oleh karenanya ingatlah, bahwa hanya Allah Sang Maha Penolong, hanya Allah Sang Maha Pelindung, hanya Allah Sang Maha dari segala Maha di Bumi dan seluruh jagad raya ini. Kitapun juga milik Allah, yang (sedang) dipinjami raga untuk hidup, yang diberikan keleluasaan untuk memilih kearah mana kita akan menuju nantinya.
Saudaraku, bangkit dan berjuanglah dengan cara kita masing-masing tanpa harus menyingkirkan orang lain, majulah tanpa harus mematahkan semangat yang lainnya. Jika kita merasa dijatuhkan, maka berdirilah. Jika kita merasa dibenci, maka bersyukurlah. Ingatlah, pohon mangga yang dilempari tahi sapi akan tumbuh jauh lebih subur, kenapa? Karena kita dapat menjadikan tahi sapi tersebut sebagai pupuk untuk membuat "pohon" kita berbuah lebih banyak. Bahkan akan lebih baik lagi jika kita bisa membagi "buah" tersebut dengan cara yang manis kepadanya yang melemparkan tahi sapi itu ke kita, ungkapkanlah rasa terimakasih, karenanya kita bisa tumbuh subur menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Saudaraku, kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam berpijak di dunia ini. Silahkan berlomba sekuat kemampuan yang kita miliki, namun berkompetisi dalam hal kebaikan adalah yang terbaik. Jangan menyerah! Selamat berjuang! Karena pada akhirnya nanti, hanya Allah-lah yang berhak mengadili. Percayakan kepada Allah seluruh rasa cinta dan kepercayaan kita, karena Allah akan memberikan kita yang terbaik, dan tidak akan pernah mengecewakan. Maka percayalah.
