Senin, 25 Juli 2016

Cinta yang Sempurna

"Mencintai manusia seperlunya, mencintai Allah sepenuhnya."

Banyak orang yang salah kaprah dengan makna "cinta" yang sedang mereka jalani, seakan-akan selalu "mendewakan" cinta tanpa memahami maksudnya. Menyerahkan keseluruhan rasa tanpa mendalami tujuannya. Mempertaruhkan separuh (seluruh) waktu hidupnya hanya dengan harapan akan mendapatkan cinta yang sempurna. Tidak banyak orang yang mengerti tentang makna cinta yang hakiki, mungkin termasuk juga denganku. Aku pun juga sama, merasa bahwa cinta adalah segalanya. Hingga tanpa sadar dalam setiap waktu kehidupanku hanya diperdaya oleh cinta.

Sering terbersit dalam pemikiran tentang konsep "cinta yang sempurna", namun dalam kenyataannya justru malah "cinta yang salah" yang kudapatkan. Terjebak dalam rasa yang selalu dipenuhi dengan gundah, gelisah. Cinta yang hanya membahagiakan sesaat, selebihnya hanya menibulkan kekecewaan yang berakhir dengan luka dalam jangka waktu yang bisa terbilang lama masa pemulihnya. Karena cinta, kita sering merasa dijadikan sebagai "korban". Korban perasaan yang nantinya membuat kita jadi baper (bawa perasaan), mengaitkan kesemuanya menjadi "atas nama cinta". Menangis karna cinta, tertawa karna cinta, terluka karna cinta, bahagia pun (seakan-akan) karna cinta.

Kita banyak mengingat hal-hal penting tentang cinta, namun sebaliknya kita sering lupa atau sengaja melupakan Sang Maha Pemberi Cinta itu sendiri. Sadar tidak? Kita hanya akan mengingat Allah ketika sedang dilanda masalah, selebihnya, rasa syukur hilang entah kemana ketika kita sedang bahagia. Bukan hanya itu, terkadang ketika sedang dalam masalah pun, kita justru su'udzon kepada Allah dan menyalahkan orang lain. Dengan pintarnya kita selalu mengoreksi orang lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri. Mengeluh tiada henti tanpa menyadari bahwa sumber masalahnya adalah dari diri kita sendiri. Kita mempercayai seseorang, mempertaruhkan seluruh rasa percaya itu kepada orang yang bahkan belum tentu bisa dipercaya. Kita mengagungkan seseorang yang kita anggap bisa menolong kita dalam setiap situasi kehidupan. Kita lupa bahwa mereka pun juga sama seperti kita, sama-sama mahluk yang berasal dari tanah, dan nantinya juga akan kembali ke tanah. 

Salah seorang Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, mengatakan, "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia". Lalu untuk apa kita masih berharap lebih kepada manusia yang notabenenya juga sama seperti kita? Oleh karenanya ingatlah, bahwa hanya Allah Sang Maha Penolong, hanya Allah Sang Maha Pelindung, hanya Allah Sang Maha dari segala Maha di Bumi dan seluruh jagad raya ini. Kitapun juga milik Allah, yang (sedang) dipinjami raga untuk hidup, yang diberikan keleluasaan untuk memilih kearah mana kita akan menuju nantinya.

Saudaraku, bangkit dan berjuanglah dengan cara kita masing-masing tanpa harus menyingkirkan orang lain, majulah tanpa harus mematahkan semangat yang lainnya. Jika kita merasa dijatuhkan, maka berdirilah. Jika kita merasa dibenci, maka bersyukurlah. Ingatlah, pohon mangga yang dilempari tahi sapi akan tumbuh jauh lebih subur, kenapa? Karena kita dapat menjadikan tahi sapi tersebut sebagai pupuk untuk membuat "pohon" kita berbuah lebih banyak. Bahkan akan lebih baik lagi jika kita bisa membagi "buah" tersebut dengan cara yang manis kepadanya yang melemparkan tahi sapi itu ke kita, ungkapkanlah rasa terimakasih, karenanya kita bisa tumbuh subur menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Saudaraku, kita punya hak dan kewajiban yang sama dalam berpijak di dunia ini. Silahkan berlomba sekuat kemampuan yang kita miliki, namun berkompetisi dalam hal kebaikan adalah yang terbaik. Jangan menyerah! Selamat berjuang! Karena pada akhirnya nanti, hanya Allah-lah yang berhak mengadili. Percayakan kepada Allah seluruh rasa cinta dan kepercayaan kita, karena Allah akan memberikan kita yang terbaik, dan tidak akan pernah mengecewakan. Maka percayalah.

Senin, 01 Februari 2016

Tolong Berhenti

Apa yang membuatmu susah tidur hampir di setiap malam?
Apakah ketakutan?
Kesepian?
Kegelisahan?
Pikiran?
atau bayangan -masa lalumu-?

Apakah sakit tak membuatmu jera?
Mengingatnya sebagai luka.
Namun tetap kau lakukan hampir di setiap harinya.

Apakah tak bisa kau beralih?
Berpindah tanpa pedih.
Berjalan tanpa perih.
Bergerak tanpa sedih.

Apakah tak bisa kau sadari?
Masa lalumu hanyalah sebuah memori.
Kenangan hanya bisa kau resapi.
Bukan untuk kau sesali.
dan sebesar apapun keinginanmu takkan bisa membuatmu tuk kembali.

Untukmu wahai hati.
Usaikanlah disini.
Cobalah mengerti.
dan jangan diulangi.

-Istiqitsi
Malang, 1 Februari 2016, 22:45, tolonglah berhenti.

Minggu, 17 Januari 2016

KUNAMAI DIA, BINTANG

Hai senja, apa kabar dengan masa lalu?
Apakah baik-baik saja disana?

Hai senja, kemarin aku melihat langit mendung sebelum menyambutmu.
Apakah sama dengan perasaanmu?

Hai senja, aku masih baik-baik saja disini.
Dan pelangiku masih tetap sama.

Senja, kali ini aku ingin menyapamu dengan senyum.
Keajaiban warnamu mungkin dicintai oleh kebanyakan orang, namun bagiku tetaplah pelangi yang selalu kurindukan.

Senja, aku masih ingat ketika kau menyapaku dengan spontan.
Aku masih ingat ketika kau melarutkanku dalam jalan hidup yang pernah tak ingin kubagi dengan yang lainnya.
Aku masih ingat ketika kau memudarkan titik fokusku kepadanya dan mengalihkannya untuk berfokus ke kamu.
Aku masih ingat ketika kau..... seperti tak ada habisnya ketika mengingatmu.

Senja, terkadang senyumanmu tak pernah bisa menjauh dari benakku.
Senja, terkadang tatapan haruku tak pernah bisa meninggalkanmu.
Senja, jika memang kini aku sedang merindukanmu.
Aku harap kau tetap terjaga disana.
Walaupun waktumu sangatlah singkat, tetapi kamu mampu menghipnotis banyak orang dalam hal perubahan yang baik.

Senja, mungkin kau hanya sebatas serpihan masa lalu yang tak dapat kuperpanjang masa berlakunya.
Begitupun juga denganku yang tak dapat kau gapai.
Dunia kita berbeda.

Kini sudah bukan waktunya lagi kita bertanya dalam syahdunya doa kepada Tuhan.
Kini hanya satu bintang yang dapat mengenang tentang kita.
Mungkin kamu merindukanku, dan mungkin juga aku yang merasakan hal yang sama.
Saat ini, apakah kau baik-baik saja disana?

Waktumu telah habis, dengan meninggalkan sejuta kenangan yang tak pernah habis untuk diceritakan.
Aku telah menguburmu dalam angan.
Namun terkadang aku menggalimu lagi dalam setiap pikiranku.
Aku terjebak dalam masa laluku, tetapi takkan pernah kudalami.
Kisah kita bukan seperti bintang yang tidak pernah meninggalkan bulan.
Kisah kita bukan seperti romeo dan julliet yang selalu berbekaskan keromantisan.
Kisah kita mungkin seperti malam dan siang yang hanya berbataskan senja.
Dan aku menikmati detik-detik pertemuan kita.
Sekejap, tapi menancap.

Sekarang, akan kugantikan namamu menjadi satu bintang yang terang.
Teruslah bersinar tanpa pernah padam.
Sementara aku, akan kulanjutkan hidupku.
Akan kuwujudkan semua impianku yang pernah kubagi denganmu.
Jangan khawatir, pelangi sudah berada tepat disisiku.
Dan dia pasti akan menjagaku selayaknya kamu dulu.

Bintang.. akan kutemani kau dalam setiap rentetan doaku pada Tuhan.
Akan ku-ukirkan setiap aku dan kamu menjadi suatu wadah di dalam kenangan.
Terimakasih untuk setiap kamu yang sempat menjadi sempurnaku di masa lalu.
Terimakasih untuk semua kita yang tak akan pernah bisa kita ulangi, meskipun hanya sekali.
Kini tidurlah dengan nyenyak dalam pelukan Tuhan.
Semoga bahagia di surga.


untukmu,
MRHL
Malang, 17 Januari 2016.

Rabu, 13 Mei 2015

Labirin

Siapa yang dapat menerka apa yang akan terjadi dalam hidup yang belum pernah kita tempuh? Apakah kita dapat menentukan arahnya? Ataukah kita bisa menjamin bahwa hidup ini akan selalu baik-baik saja?

Mungkin.. kita hanya dapat memprediksi rute yang akan kita lewati, tanpa bisa memastikan rute itu tepat atau tidak. Sebab hidup ini bak labirin yang sangat besar dan rumit. mungkin kita melangkah dengan benar namun ada kalanya kita salah dan harus berputar balik mencari jalan keluar.

Saat ini yang kuketahui aku sedang berada di dalam sebuah labirin. Berjalan dengan lunglai tapi tetap ingin terus berjalan. Aku ingin rute ini segera berakhir. Seringnya kuterseok, terbelenggu, dan patah asa dalam langkahku sendiri. Labirin ini luas dan tanpa cahaya. Bahkan ketika otak dan hati seakan sedang berdebat hebat pun, seperti masih ada seorang malaikat yang berbisik lirih dan terus mengajakku berjalan perlahan.

Bak labirin, aku tau aku tidak sendiri disana, banyak yang mendahuluiku dengan cepat, tapi nampaknya aku mulai menikmati perjalananku ini. Ya, aku mulai menikmati teka-teki labirin ini. Aku pelajari setiap sudutnya, aku mulai mengatur ulang rute dan garis finishnya, dan aku yakin AKU PASTI BISA! Iya, aku bisa menempuhnya walaupun membutuhkan waktu yang sangat lama.

Labarin ini membuatku lebih berani melakukan banyak hal yang menurutku ajaib. Labirin ini membuatku mencintai kekuranganku, mengangkatnya tinggi, dan menjadikannya sebuah kekuatan. Labirin ini membuatku hidup tangguh dengan semangat baru. Dan labirin ini yang membuatku bahagia, mempertemukanku dengan mereka orang-orang hebat tak bertopeng yang menggandengku erat dan mengajakku bersama-sama menuju puncak.

Jika memang belum sekarang, aku tidak akan menyesalinya. Karena sungguh, kebahagiaan itu adil, dan keadilan itu kita sendiri yang bisa menciptakannya. Jadi, aku akan memilih untuk terus bahagia😉

Minggu, 15 Maret 2015

MOTIVASI DIRI

...Bismillahirrahmanirrahim...


Wahai Kawanku,
Hari mari kita panjatkan syukur yang besar kepada Sang Pencipta.
Karena atas keberkahan yang ia berikan, yang luar biasa banyaknya.
Ia berikan kita hidup yang layak.
Ia berikan kita kesehatan dan kerangka tubuh yang lengkap.
Ia berikan kita keluarga yang baik.
Ia berikan kita sahabat dan lingkungan hidup yang positif.
Dan ia berikan semua apa yang kita butuhkan.

Lalu apa yang membuat kita masih banyak mengeluh hingga saat ini?
Kegagalan kah?
Ketidak-beruntungan kah?
atau hidup yang tak sebaik dengan apa yang kita harapkan?

Iya memang. Hidup memang tak semudah seperti kita membolak-balikkan telapak tangan ataupun membuat garis lurus.
Ada kalanya berbelok dan berliku.
Tapi sadarkah kita bahwa proses itulah yang akan membuat hidup kita jauh lebih menarik jika kita menikmatinya.
Sulit?
Rumit?
Iya memang. Tapi ketika kita mampu untuk melukiskannya dengan baik, membentuknya dengan struktur terbaik dalam langkah kita, saya yakin kita tidak akan kalah dengan keadaan.
Pilihannya hanya ada 2 :
Menyerah dan kalah
atau
Berjuang dan menang.

Jika hari ini adalah hari terbaik yang kita punya.
Jika hari ini adalah hari kita.
Jika hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuk kita.
Maka marilah kita bermimpi.

Apa yang akan terjadi pada 3 tahun, 5 tahun, ataupun 10 tahun kedepan.
Sebesar apa mimpi yang kita punya.
Seluas apa pencapaian yang ingin kita gapai.
Sejauh apa cita-cita yang ingin kata raih.
Jika setiap orang memilik impian yang berbeda, maka janganlah takut untuk bermimpi.
Bermimpilah yang besar.
Karena jika kita ingin menjadi besar, maka selalu berfikirlah untuk menjadi besar.

Mulai sekarang tetaplah berusaha melakukan yang terbaik.
Tidak peduli seberapa keras ombak itu menghantam kokohnya karangmu.
Tidak peduli seberapa besar badai itu menyambar tingginya tembok yang tlah kau bangun.
Karna yakinlah bahwa kau jauh lebih kuat dari apapun yang melemahkanmu.
Karna yakinlah bahwa pondasi yang kau buat jauh lebih tangguh dari apapun yang menghancurkanmu.

Karena satu hal, Allah tidak akan pernah tidur. Ia akan selalu melihatmu, mendengarkan seluruh ratapanmu, dan meridhoi setiap langkah terbaikmu.

Jadi berjuanglah dengan bahagia.
Bersama sejuta mimpi yang kita bangun.
Bersama binar-binar cahaya yang mampu menerangi keseluruhan langkah kita.
Karena bahagia itu sederhana.
Dan sangat sederhana ketika kita mau bersyukur.

Rabu, 30 April 2014

Jangan Pernah Kembali, Tuan

Halo tuan? masih ingatkah dengan saya? ya saya, wanita tempat persinggahan hati anda.
Apa kabar tuan? Tidakkah kau merindukan saya? ya, saya tau jawabannya. Pasti tidak.

Tuan, di ujung pertemuan ini.
Ya, saya katakan mungkin ini terakhir kalinya saya memandang anda dengan tatapan cinta, sayang dan sebagainya. Perasaaan yang nampaknya saya rasakan lebih dari cukup, dahulu. Segalanya hilang, hanya menyisakan sejuta sesak yang entah sampai kapan sembuhnya.

Luruh lantak seketika tuan, ketika saya melihat anda dengan dia, lagi. Entah dimana letak otak anda, entah dimana letak hati anda. Sudah anda lepaskan kah?

Anda terlalu cerdas tuan. Anda sungguh terlalu cerdas. Anda membuat dua hati melekat pada satu hati yang sama. Ya, tepat pada hati anda.

Saya berpikir tuan, siapa saya dimata anda? persinggahankah? atau hanya sekedar tempat pelampiasan sesaat dari dendam anda kepadanya?

Anda memeluk saya, di waktu yang sama juga anda menusuk saya dengan belati, lebih dari berkali-kali. Anda mengekang saya. Anda membuat saya tertunduk, terdiam, dan tanpa sadar. Anda mempermainkan saya lebih dari boneka. Dengan sakit ini saya berharap anda hanya "tersesat sesaat". Titik kefokusan dari keseluruhan saya hanya ada satu, dan hanya tertuju pada anda.

Saya berdiri, nampaknya seperti terlepas dari kesendirian, namun apakah? Saya tidak dapat menutup anda dari bayangan mata saya. Saya takut, entah kemana saya harus pergi. Saya tidak ingin melihat anda, lagi. Syaraf saya menjalar dengan sangat cepat. Berdetak dengan kencang tanpa bisa saya cegah. Tatapan anda membuat otak saya berhenti. Tuan, puaskah anda dengan kesegalanya ini? Apakah harus dengan cara ini anda membalas kesegala saya yang pernah melekat pada hati anda, "sepertinya".

Saya mengetahui, anda membenci saya tanpa perlu saya minta. Sekarang apa lagi yang anda inginkan dari saya? Saya sudah hancur, dan lebih dari berkeping-keping. Saya terpuruk, dan seperti tidak dapat mengontrol kesegalanya dengan lebih baik lagi dari ini. Anda membuat saya seperti kehilangan beberapa memori dari otak saya yang seharusnya masih bisa saya ingat. Anda membuat saya tidak dapat merasakan apa-apa lagi, mati rasa dengan segala apa yang anda lakukan. Anda pergi tanpa pamit. Meninggalkan saya dengan semua kepalsuan.

Tuan, sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk kembali. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk menggenggam jemari saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berjalan selangkah dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan meminta anda untuk berada disamping saya lagi. Sungguh, saya tidak akan mensejajarkan pemikiran anda dengan saya lagi. Sungguh, saya tidak akan menyempurnakan kesegala masa depan yang telah anda janjikan kepada saya lagi. Sungguh, saya tidak akan melekatkan hati saya ke hati anda lagi. Sungguh, sungguh, sungguh. Tidak akan ada cerita lagi tentang kita, ya saya dengan anda. Anda bukan lagi arah yang ingin saya tuju.  Banyak janji anda yang sudah saya dengar, namun semuanya telah anda langgar dengan sangat baik. Sungguh tuan, saya lelah.

Saya memaafkan anda tuan, atas kesegala hal yang pernah anda lakukan. Ucapan anda sudah tidak ada lagi yang ingin saya dengar. Saya memilih untuk diam, hanya berbicara dalam doa yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan. Trauma ini mungkin dalam waktu yang lama, yang tidak bisa saya prediksikan kapan masa berakhirnya. Saya memejamkan mata, berharap tidur ini tidak untuk selamanya. Saya bukan orang yang baik tuan, saya hanya berusaha untuk selalu berbuat baik sebisa yang saya mampu. Sungguh tuan, saya memaafkan anda dengan sangat baik, dan saya juga tidak akan pernah melupakannya, untuk selamanya.

Sungguh Tuan, jangan pernah kembali.

Senin, 31 Maret 2014

Tolong Buat Aku Lupa

Jelaskan padaku mengapa semua terjadi seperti ini. Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil diotakku hingga memenuhi relung-relung hatiku. Semua terjadi begitu cepat tanpa teori dan banyak basa basi. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itukah kau memulai menguasai hari-hariku?

Kamu jadi penyebab rasa semangatku. Kamu menjelma menjadi senyum yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Iya mungkin aku jatuh cinta. Entah kamu. Semua kulakukan secara diam-diam, begitu rapi hingga hatimu yang beku tidak pernah berhasil mencair. Semua kusembunyikan, hingga perasaanmu yang tidak pernah peka tetap saja tidak peduli pada gerak gerikku yang jarang tertangkap oleh sorot matamu. Aku pandai menyembunyikan banyak hal. Hingga kau tak memahami yang sebenarnya terjadi.

Aku tak bisa melupakanmu, sungguh. Aku selalu ingat caramu menatapku, caramu mencuri perhatianku. kerutan matamu yang aneh namun tetap terlihat mempesona dimataku. Hal-hal sederhana itu seakan-akan diciptakan untuk tidak dilupakan. Tolong buat aku lupa, karna aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.

Kita jarang punya kesempatan berbicara, maksudku berdua saja. Rasanya mustahil. Kamu dan aku begitu berbeda. Air dan api. Dingin dan panas. Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit kutebak. Kamu teka-teki yang punya banyak jawaban juga banyak tafsiran. Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kamu tujukan padaku. Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang  mungkin saja tak hanya kau katakan untukku. Aku takut mempercayai perhatian sederhanamu yang kau perlihatkan secara tersembunyi. Aku takut, aku takut, semakin takut jika perasaan ini bertumbuh kearah yang tidak kuinginkan.

Tolong hentikan langkahku jika memang segalanya yang kuduga benar-benar hal yang salah dimatamu. Tolong kembalikan aku ke jalanku sebelum aku mengganggu rute tujuanmu. Ketahuilah tampan, aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul diotakku seperti asap rokok yang menggantung di udara. Kamu seakan-akan nyata. Aku tak percaya ternyata kita bisa melangkah sejauh ini, dan selama ini juga aku tak pernah berani mengatakan satu hal yang mungkin mengagetkanmu. Aku mulai menyukaimu. Diantara rindu yang selalu gagal aku ungkapkan, dalam rasa canggung yang belum kupahami. Tolong jangan pergi.


-Tolong Buat Aku Lupa, karya @dwitasaridwita :')-