Halo Matahari,
Bintang raksasa,
Bergaya grafitasi tinggi,
Si penguasa tata surya.
Matahari,
Bumi hangat hari ini,
Karenamu, si pemancar cahaya terbaik bumi ini.
Kusampaikan rinduku lewat celah-celah tirai jendela kamarku.
Kau menyapa lewat sinar yang kau pancarkan tepat mengenai wajahku.
Matahari,
Banyak yang mengeluhkan terikmu,
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah energi surya.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber penerangan terbesar di dunia.
Yang membuat mereka lupa bahwa sinarmu adalah sumber utama bagi kehidupan mahluk hidup.
Matahari,
Angin yang kau keluarkan dari atas atmosfermu bahkan bisa menjangkau keseluruhan tata surya.
Tanpamu kehidupan tidak akan berjalan baik.
Kau begitu kuat, begitu tangguh dengan dirimu sendiri.
Matahari,
Warnamu penyemangat.
Pemberi riang bagi hati yang tersayat.
Pemberi ruang bagi manusia yang terus bergerak.
Pencipta peluang bagi jiwa-jiwa pendobrak.
Pelukis senyum bagi raga yang terus bersorak.
-Istiqitsi
Bontang, 6 November 2018, 06.13, semangat pagi matahariku.
Senin, 05 November 2018
Minggu, 19 Maret 2017
Posts by : Admin
HUJAN
Hujan jatuh tanpa cegah.
Basahi bumi meratapi.
Langit pucat tanpa ubah.
Rintik air buyarkan sepi.
Hujan jembatan.
Pengantar pesan dari langit kepada bumi.
Hujan keajaiban.
Uap air yang dikondensasikan menjadi butiran air
dari atmosfer ke daratan pertiwi.
Udara jenuh menjelang hujan.
Presipitasi jatuh dan menguap sebelum menyentuh daratan.
Wujud virga seperti yang biasa kita rasakan.
Kilat, petir datang pun bukan karna tanpa alasan.
Hujan simbol keberkahan.
Penolong, pemenuh kebutuhan.
Hujan penanda kejujuran.
Penyeimbang, pemusnah cerah dalam kegelapan.
Hujan adalah kedamaian.
Penguat, pemeluk jiwa dalam ketenangan.
Hujan, turunlah deras.
Bergejolaklah keras.
Hingga kau lelah dalam rintikanmu.
Hingga gerimis berangsur-angsur mengering.
Dan pelangi hadir mewarnai hari,
Dan pelangi hadir menghangatkan hati.
-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2017, 00.05, dalam hujan merengkuh mimpi.
Basahi bumi meratapi.
Langit pucat tanpa ubah.
Rintik air buyarkan sepi.
Hujan jembatan.
Pengantar pesan dari langit kepada bumi.
Hujan keajaiban.
Uap air yang dikondensasikan menjadi butiran air
dari atmosfer ke daratan pertiwi.
Udara jenuh menjelang hujan.
Presipitasi jatuh dan menguap sebelum menyentuh daratan.
Wujud virga seperti yang biasa kita rasakan.
Kilat, petir datang pun bukan karna tanpa alasan.
Hujan simbol keberkahan.
Penolong, pemenuh kebutuhan.
Hujan penanda kejujuran.
Penyeimbang, pemusnah cerah dalam kegelapan.
Hujan adalah kedamaian.
Penguat, pemeluk jiwa dalam ketenangan.
Hujan, turunlah deras.
Bergejolaklah keras.
Hingga kau lelah dalam rintikanmu.
Hingga gerimis berangsur-angsur mengering.
Dan pelangi hadir mewarnai hari,
Dan pelangi hadir menghangatkan hati.
-Istiqitsi
Malang, 20 Maret 2017, 00.05, dalam hujan merengkuh mimpi.
Senin, 13 Maret 2017
Posts by : Admin
LANGIT
Langit berbisik, ia ingin sekali menangis malam ini.
Mendung tak berujung, namun tak juga lekas kau tumpahkan ke tanah.
Tertahan.
Senja menghitam di penghujung petang.
Langit, kau luas.
Gas yang ada padamu tak terbatas.
Udara membiaskan cahaya biru lebih banyak dari matahari.
Warnamu mengagumkan.
Biru yang menyejukkan.
Jingga yang menenangkan.
Dan hitam yang melukiskan betapa manisnya bintang dan bulan yang saling menerangi.
Langit, kau adalah atap.
Pelindung dalam setiap harap.
Pemersatu doa dalam setiap ratap.
Langit, mengapa kau terus mendung?
Mengapa kau tak segera bersenandung?
Bernyanyilah dengan ribuan rintik hujan yang akan mengobati lukamu.
Menarilah dibawah nyanyian derasmu itu, usir sepi dalam sesakmu.
Biarlah sajak dalam bait ini memainkan sanjungannya untukmu.
Lekaslah tersenyum dan berbahagialah dengan cerahmu.
Karna kami sangat merindukanmu.
-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2017, 21.53, untukmu Langit.
Mendung tak berujung, namun tak juga lekas kau tumpahkan ke tanah.
Tertahan.
Senja menghitam di penghujung petang.
Langit, kau luas.
Gas yang ada padamu tak terbatas.
Udara membiaskan cahaya biru lebih banyak dari matahari.
Warnamu mengagumkan.
Biru yang menyejukkan.
Jingga yang menenangkan.
Dan hitam yang melukiskan betapa manisnya bintang dan bulan yang saling menerangi.
Langit, kau adalah atap.
Pelindung dalam setiap harap.
Pemersatu doa dalam setiap ratap.
Langit, mengapa kau terus mendung?
Mengapa kau tak segera bersenandung?
Bernyanyilah dengan ribuan rintik hujan yang akan mengobati lukamu.
Menarilah dibawah nyanyian derasmu itu, usir sepi dalam sesakmu.
Biarlah sajak dalam bait ini memainkan sanjungannya untukmu.
Lekaslah tersenyum dan berbahagialah dengan cerahmu.
Karna kami sangat merindukanmu.
-Istiqitsi
Malang, 13 Maret 2017, 21.53, untukmu Langit.
Minggu, 19 Februari 2017
Posts by : Admin
Denganmu
Aku ingin terbang.
Mengudara bebas.
Menjelajahi berbagai dimensi.
Melintasi samudra waktu.
Berkenala tanpa ganggu.
Aku ingin menyebrangi Venus.
Berselancar di piringan Saturnus.
Menemukanmu di Uranus.
dan berdansa denganmu di radar Neptunus.
Aku akan menyentuhmu di ujung mata.
Menggenggammu dengan cerita.
Memelukmu dengan nada.
Menciummu dengan tawa.
Galaksi ini kecil.
Cinta dengan makna dalam canggungnya.
Canggung yang dicapai dalam bahasanya.
Bahasa yang diterjemah oleh satelit pemancarnya.
Jagat raya ini menyeluruh.
Dunia kita utuh.
Kau dan aku.
Dua dan satu.
Denganmu,
Gundah membahagiakan.
Gerah menyejukkan.
Gelisah menenangkan.
Selamanya akan begitu bukan?
-Istiqitsi
Malang, 19 Februari 2017, 17.45, denganmu, bersamamu, melegakan.
Mengudara bebas.
Menjelajahi berbagai dimensi.
Melintasi samudra waktu.
Berkenala tanpa ganggu.
Aku ingin menyebrangi Venus.
Berselancar di piringan Saturnus.
Menemukanmu di Uranus.
dan berdansa denganmu di radar Neptunus.
Aku akan menyentuhmu di ujung mata.
Menggenggammu dengan cerita.
Memelukmu dengan nada.
Menciummu dengan tawa.
Galaksi ini kecil.
Cinta dengan makna dalam canggungnya.
Canggung yang dicapai dalam bahasanya.
Bahasa yang diterjemah oleh satelit pemancarnya.
Jagat raya ini menyeluruh.
Dunia kita utuh.
Kau dan aku.
Dua dan satu.
Denganmu,
Gundah membahagiakan.
Gerah menyejukkan.
Gelisah menenangkan.
Selamanya akan begitu bukan?
-Istiqitsi
Malang, 19 Februari 2017, 17.45, denganmu, bersamamu, melegakan.
Minggu, 29 Januari 2017
Posts by : Admin
Sayang Rasa Lemon
Aristoteles mendefinisikan sahabat sejati adalah “satu jiwa di dalam
dua jasad”. Seseorang juga pernah mengatakan bahwa “banyak sekali orang
yang datang dan pergi dalam hidupmu, tetapi hanya sahabat sejatilah yang
jejaknya tetap tertinggal di hatimu.” Dia tidak pernah pergi meskipun
jarang komunikasi, dia tak akan pernah hilang meskipun terpisah oleh
ribuan kilometer jarak yang terbentang.
Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang *ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu, menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.
Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh. Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.
Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata dibandingkan ungkapan.
Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka - bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak pernah meninggalkanmu seorang diri.
Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin (awet tanpa padam).
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih. Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.
Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤
-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44, sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.
Oscar Wilde berkata, “Sahabat sejati itu adalah orang yang menikammu dari depan.” Bukan yang berkata manis di depan dan menikammu di belakang *ups*. Ya, Sahabat terbaikmu pasti akan selalu mengejekmu, menjatuhkanmu, menertawakanmu, meremehkanmu, bahkan terkadang memaki-makimu. TAPI, itu di depanmu. Dibelakangmu, dia adalah orang yang akan selalu menjadi garda terdepan ketika membelamu, menyanjungmu tanpa perlu kamu tau. Dia akan memberikanmu nasehat dalam setiap keluh kesahmu, memberikanmu solusi dalam setiap masalahmu, menyemangatimu dalam setiap keterpurukanmu, menenangkanmu dalam setiap emosi kemarahan dan tangis kesedihanmu, mendukungmu dalam setiap perjuanganmu.
Sahabat terbaik bukan hanya dia yang selalu ada, TAPI dia yang selalu hadir di waktu yang tepat. Dia yang akan lebih bahagia ketika melihatmu tertawa, dan dia yang akan lebih tersungkur ketika melihatmu terjatuh. Dia yang bahkan terkadang bisa lebih memahamimu, dibandingkan kamu memahami dirimu sendiri.
Dalam kamusnya, sahabat sejati akan lebih banyak memberikanmu arti dibandingkan puisi. Dia akan lebih sering mengerti tidak menyakiti. Dia akan lebih candu melihat senyumanmu bukan sendumu.
Dalam kejujurannya, sahabat sejatimu tidak akan pernah bilang dia rindu padamu, tidak akan pernah bilang bahwa dia menyayangimu, tidak akan pernah bilang bahwa sahabat terbaiknya adalah kamu, TAPI percayalah, sahabat sejati akan merasakan tanpa harus mengatakan. Bahwa makna lebih penting dibandingkan kata. Bahwa pembuktian lebih nyata dibandingkan ungkapan.
Dari banyak kejadian yang telah kau alami, sahabat sejatimu akan selalu ada dalam setiap kenanganmu. Dengan semua aibmu, dengan semua kebodohanmu, dengan semua fasemu, dengan semua tawa tangis - suka duka - bahkan dengan semua pencapaianmu saat ini, dia yang selalu memperhatikanmu, mengaitkan genggamannya, selalu peduli, dan tidak pernah meninggalkanmu seorang diri.
Dan bagiku -wahai kau para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku-, terimakasih. Terimakasih karna kau telah memberikanku banyak warna. Terimakasih karna kau telah menyuguhkan madu untukku tanpa pemanis buatan. Terimakasih karna kau menjadi lilin dengan formalin (awet tanpa padam).
Tidak ada kata menang atau kalah, tidak peduli siapa yang duluan ataupun belakangan, harapanku semoga kita bisa selalu beriringan dalam tujuan, saling menggenggam, berangkulan. Saling memberi tanpa pamrih. Saling mengasihi tanpa menimbulkan perih.
Untuk para “penjahat” berhati malaikat dalam duniaku, AKU BENCI KALIAN, KALIAN JAHAT SEKALIIIII !!! ❤
-Istiqitsi
Malang, 29 Januari 2017, 22:44, sayang rasa lemon, kecut-kecut menyegarkan.
Jumat, 13 Januari 2017
Posts by : Admin
PENCAPAIAN
Apa yang orang dapatkan dari sebuah pencapaian?
Apakah rasa bangga?
Apakah rasa hormat?
Apakah rasa puas?
Apakah rasa menang?
Ataukah rasa syukur?
Banyak orang berlomba-lomba; bertarung; mempertaruhkan seluruh tenaga, waktu, pikiran; untuk apa? untuk harga diri -kebanyakan-.
Mengapa terkadang orang lebih ingin mencapai keberhasilan, kesuksesan? Apakah dari pencapaian itu ia akan bisa bahagia, lega?
Sampai pada titik teratas pun, manusia tidak akan pernah puas dan akan selalu berusaha untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan. Dapat membuktikan bahwa ia yang paling bersinar, bahwa ia yang paling terlihat. Bahwa menerima dan memahami akan menjadi nomor kesekian dari suatu pencapaian.
Itulah alasan kenapa aku sangat mengagumi bianglala, karena bianglala membuatku tidak akan lupa bahwa ketika kita diatas pun kita bisa dengan mudah untuk turun, kembali ke titik terbawah. Menolak lupa bahwa saat berada di titik teratas pun, ada orang lain yang sedang menunggu giliran untuk mulai naik keatas. Bergantian, silih berganti.
Seseorang datang dan pergi, membawa warna dan kelabunya sendiri. Saat dititik terbawah selalu ada sebuah keoptimisan bahwa ada kalanya kita akan naik keatas, bahwa ada orang-orang hebat yang akan membawamu turut serta, atau orang-orang baik yang akan membantumu untuk bangkit, ataupun dirimu sendiri yang dengan kokohnya pertahanan akan merangkak hingga berlari menuju titik pencapaianmu sendiri.
Bahwa definisi pencapaian setiap orangnya adalah berbeda. Begitupun juga dengan proses menujunya, berbeda, dan tidak akan pernah bisa sama.
Istiqitsi- Malang, 13 Januari 2016, 23.47, sebuah pencapaian~
Apakah rasa bangga?
Apakah rasa hormat?
Apakah rasa puas?
Apakah rasa menang?
Ataukah rasa syukur?
Banyak orang berlomba-lomba; bertarung; mempertaruhkan seluruh tenaga, waktu, pikiran; untuk apa? untuk harga diri -kebanyakan-.
Mengapa terkadang orang lebih ingin mencapai keberhasilan, kesuksesan? Apakah dari pencapaian itu ia akan bisa bahagia, lega?
Sampai pada titik teratas pun, manusia tidak akan pernah puas dan akan selalu berusaha untuk mendapatkan yang lebih dari apa yang telah ia dapatkan. Dapat membuktikan bahwa ia yang paling bersinar, bahwa ia yang paling terlihat. Bahwa menerima dan memahami akan menjadi nomor kesekian dari suatu pencapaian.
Itulah alasan kenapa aku sangat mengagumi bianglala, karena bianglala membuatku tidak akan lupa bahwa ketika kita diatas pun kita bisa dengan mudah untuk turun, kembali ke titik terbawah. Menolak lupa bahwa saat berada di titik teratas pun, ada orang lain yang sedang menunggu giliran untuk mulai naik keatas. Bergantian, silih berganti.
Seseorang datang dan pergi, membawa warna dan kelabunya sendiri. Saat dititik terbawah selalu ada sebuah keoptimisan bahwa ada kalanya kita akan naik keatas, bahwa ada orang-orang hebat yang akan membawamu turut serta, atau orang-orang baik yang akan membantumu untuk bangkit, ataupun dirimu sendiri yang dengan kokohnya pertahanan akan merangkak hingga berlari menuju titik pencapaianmu sendiri.
Bahwa definisi pencapaian setiap orangnya adalah berbeda. Begitupun juga dengan proses menujunya, berbeda, dan tidak akan pernah bisa sama.
Istiqitsi- Malang, 13 Januari 2016, 23.47, sebuah pencapaian~
Senin, 01 Agustus 2016
Posts by : Admin
Bahagia dengan Membahagiakan
Saudaraku,
kebahagiaan kita terletak pada seberapa besar kita memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dengan memberikan kebahagiaan kepada orang lain (terlebih keluarga dan orang-orang disekitar), maka kita akan mendapatkan balasan kebahagiaan kita sendiri.
Oleh karenanya Saudaraku,
sebarkanlah aura positif, teruslah berbuat kebaikan, perbanyaklah bersyukur, buanglah sifat pamrih,
dan terakhir,
Jangan lupa bahagia!
Langganan:
Postingan (Atom)
